Langsung ke konten utama

Tidak diajarkan di SEKOLAH

      Seringkali kita mendengar tentang makna hidup, seperti untuk apa kita hidup, apa yang harus kita lakukan dalam hidup, bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik, mengapa hidup ini penuh dengan perbedaan dan seterusnya. Banyak kumpulan filosofi kehidupan yang diajarkan dan sering sekali kita jadikan patokan dalam menjalani hidup kita saat ini, seperti hidup harus mempunyai cita-cita, kita harus menjadi yang terbaik, kita harus memiliki target  dan masih banyak lagi. Bila dicerna secara mendalam, sebenarnya filosofi kehidupan tidak selalu berpatokan dengan itu. Setelah  membaca beberapa referensi buku tentang makna hidup dan filosofi hidup, ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas seperti filosofi kehidupan yang saya sebutkan diatas. 

        Untuk menemukan arti hidup, butuh perjalanan yang sangat panjang dan pengalaman yang luar biasa. Diumur saya yang masih dibilang sangat muda saat ini, banyak pertanyaan yang muncul mengenai arti hidup dan banyak filosofi kehidupan yang mengatakan seperti yang saya sebutkan diatas, seperti tentang cita-cita, target hidup, hidup adalah perlombaan dan kita harus menjadi yang terbaik. Hampir semua filosofi kehidupan menuntut kita untuk selalu maju dan maju. Sebenarnya tidak salah, akan tetapi menurut saya, hidup ini untuk dinikmati setiap prosesnya dan semakin banyak kita gagal semakin besar pula peluang kita untuk berhasil. Mungkin ini beberapa filosofi kehidupan yang tidak diajarkan disekolah,  mengacu buku yang berjudul "Sang Guru Menyapa Hati" dan referensi buku lain milik Bob Sadino yang berjudul "Mereka Fikir Saya Gila", dua buku itulah yang mengilhami dan membuka fikiran saya untuk mendalami apa arti hidup.

1. Hidup tidak harus memiliki cita-cita
        Banyak orangtua ataupun keluarga yang sering bertannya kepada kita "Apa cita-citamu?" atau "mau jadi apa nanti?" Pertanyaan yang selalu muncul dan selalu ada ditingkat berapapun umur kita. Ketika masih kecil, kita selalu diberi pertanyaan "mau jadi apa nanti ?" merupakan suatu pertanyaan yang umum didengar. Timbullah berbagai jawaban tentang cita-cita, seperti dokter, polisi, perawat, pilot bahkan presiden. Tidak ada salahnya memiliki cita-cita setinggi langit, toh itu bisa menjadi penyemangat kita. Akan  tetapi kenapa dari semua pertanyaan mau jadi apa kelak, tidak ada satupun yang menjawab "Ingin menjadi orang yang baik", "Ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab kepada keluarga", "ingin menjadi orang yang jujur", kenapa cita-cita harus diidentikkan dengan suatu profesi, kenapa mereka tidak bercita-cita ingin hidup bahagia selamanya. 
Ketika mereka dewasa, tidak semua orang dapat berhasil meraih profesi yang mereka cita-citakan sejak kecil, karena Tuhan memberikan jalan yang lain untuk setiap hamba-Nya dan tentunya lebih baik untuk mereka. Tidak sedikit pula mereka yang berhasil dalam cita-citanya, akan tetapi mereka merasakan bahwa ketika mereka bekerja, ada hal yang lebih penting misalnya ;  menjadi Ibu rumah tangga yang baik dalam mengurus keluarga dan anak-anaknya atau ayah yang berhasil mendidik anak-anaknya, dan itu sangat lebih berarti, ternyata ada prioritas utama selain cita-cita mereka yaitu keluarga. Sehingga kembali kepada tujuan awal atau kodratnya manusia yang mulia. Menuntun anak untuk mengetahui apa yang mereka sukai, menurut saya itu lebih bijak, sehingga anak dapat dengan sendirinya menemukan jati diri mereka. Berawal dari hal yang mereka sukai lalu mereka mencoba mempelajari, mendalami dan selebihnya mereka akan menghayati lalu menemukan apa yang sebenarnya mereka inginkan. "A meaningful life when we love what we do".

2. Tidak harus menjadi yang terbaik
       Adakalanya hidup ini tidak selalu berkaitan dengan siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang terbaik dan siapa yang tidak. Hidup ini adalah arena kita untuk saling berbagi kepada sesama, arena kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, arena kita untuk menghayati tentang arti hidup.
"Hidup adalah untuk dijalani, bukan untuk dijadikan arena perlombaan dalam memuaskan hasrat, melainkan untuk dimengerti dan dinikmati setiap episodenya".
     Hari-hari yang kita jalani ini merupakan kisah hidup yang berbeda antara satu dan lainnya, bersyukur dengan apa yang kita dapat akan sangat lebih nikmat dan memperbaiki diri adalah kunci dari kehidupan yang bahagia. Karena kita hidup bukan untuk memperbaiki keadaan, akan tetapi memperbaiki diri dan lalu keadaan yang baik akan mengikuti diri yang baik pula. Sebagai contoh negara Jepang, Jepang merupakan negara yang maju, baik dalam bidang teknologi maupun pendidikan, akan tetapi disana tingkat bunuh diri juga sangat tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya. Tingginya tuntutan untuk menjadi yang terbaik, banyak anak-anak yang mengikuti les diluar sekolah formal, les pelajaran, seni, maupun olahraga karena orang tua mereka menginginkan anak mereka untuk menjadi yang terbaik disekolahnya, untuk dapat menempati ranking satu dan padahal setiap anak memiliki kapasitas pemahaman yang berbeda-beda. Setiap orang memaknai hidup ini  hanya untuk saling berlomba dan menjadi yang terbaik, padahal itu bukanlah tujuan dari hidup yang sebenarnya, tujuan dari hidup yang lebih mulia yaitu dengan memaknai hidup ini adalah suatu anugerah yang diberikan Tuhan untuk kita lewati dengan rasa suka cita, selalu bersyukur dan bekerja menggunakan hati. "Just follow your heart, and live your life one step at time" 

3. Tidak harus membuat target
         Target merupakan suatu yang harus dimiliki seseorang apabila ingin mencapai suatu tujuan, akan tetapi dengan kita menargetkan sesuatu kita tidak akan tahu peluang yang lain. Ibarat kita ingin memfoto suatu objek, kita hanya fokus pada objek tersebut, sehingga kita mengabaikan pemandangan  lain dan bisa jadi objek yang tidak masuk dalam fokus kita merupakan objek yang lebih bagus. Sama halnya dengan hidup, kita hanya fokus pada satu tujuan, tanpa melihat peluang-peluang lain disekitar kita. Apabila target yang kita kejar sulit untuk kita dapatkan mulailah membuka diri untuk melihat peluang yang lain. Berbeda dengan pesimis, pesimis adalah keadaan dimana kita menyerh begitu saja dan hanya pasrah kepada keadaan, disini kita akan mencoba untuk membuka diri untuk setiap peluang yang ada. Ada seseorang yang selalu membuat jadwal kesehariannya, tepat jam berapa dan dimana, ketika kita mengikuti rutinitas itu setiap harinya tidak ada hal baru dan pengalaman baru yang kita dapatkan. Saat kita tidak dapat memenuhi jadwal rutinitas kita, maka yang terjadi kita akan berfikir sebagai seseorang yang gagal dalam mengatur hidup diri kita sendiri, dan itu akan membuat kita stress, yang berdampak serius kepada  kesehatan psikis kita, so enjoy your twist and turn. Ketika kita melepaskan diri dari rutinitas, hal-hal baru akan mewarnai hidup kita.

4. Tidak perlu mencontoh orang lain
            Setiap orang dilhirkan Tuhan dengan takdir yang berbeda-beda, dengan jalan yang berbeda pula, dan dengan keunikan masing-masing. Untuk menjadi orang yang sukses ataupun berhasil, gunakanlah cara kalian sendiri, karena setiap orang dibekali oleh otak dan fikiran masing-masing. Apabila ada buku yang menulis tips sukses salah satu tokoh, hanya gunakanlah sebagai motivasi diri bukan untuk meniru tahap-tahap dan cara suksesnya, karena Tuhan memberikan takdir yang berbeda-beda. Ada orang yang dilahirkan sudah memiliki segalanya, ada pula orang yang merintis usaha dari bawah, dan ada orang yang mendapatkan kesempatan singkat menjadi orang yang berhasil atau sukses karena attitude yang dimilikinya. Keunikan itulah yang membuat kehidupan ini penuh warna, setiap orang dapat melukis sendiri bagaimana jalan hidupnya, tanpa mencontek jalan hidup orang lain. Pengalamanlah yang membuat orang memiliki keunikan dalam melukis jalan hidupnya. Pengalaman tidak selalu indah, begitupula hidup ada saat-saat dimana kita merasa sulit dan ingin menyerah karena "Tuhan tidak menjanjikan hamparan bunga mawar dalam kehidupan ini, tetapi Dia ada dalam setiap kesulitan dan penderitaan yang kita alami sehingga kita dapat bertahan dan melewatinya".

5. Carilah Kegagalan (Bob Sadino)
          Salah satu pernyataan yang membuat saya takjub dan tidak percaya, adalah pernayataan yang dilontarkan oleh Almarhum Bob Sadino yang mengatakan "Saya berwirausaha untuk cari rugi, bukan cari untung", orang awam yang mendengarnya pun pasti menganggap bahwa pernyataan beliau hanyalah untuk mencari sensasi belaka, dan banyak lagi perkataan beliau seperti "saya tidak punya target". Dibalik pernyataan kontraversi Bob Sadino, ada maksud yang ingin beliau bagikan terutama untuk kaum para intelektual agarberfikir kritis. Beliau berwirausaha untuk mencari rugi, karena beliau paham betul apabila beliau tidak rugi sebelumnya beliau tidak dapat membaca peluang untuk bisnis Kemchicks grupnya. Apabila beliau mengatakan ingin rugi, apakah beliau tidak mendapatkan untung dalam berbisnis? pasti tetap dapat untung, selama ini beliau mencari rugi akan tetapi Tuhan selalu memberikan keuntungan, berarti Tuhan sangat sayang kepda hambaNya dan itu cara beliau untuk mensyukuri setiap hasil yang ada. Apabila orang berbisnis mencari untung, apakah dia tidak mendapat rugi ? ya pasti dia merasakan rugi, lalu apa bedanya orang mencari untung dan mencari rugi, bedanya adalah orang yang mencari rugi akan selalu bersyukur apabila dia mendapakan untung, sedangkan orang yang mencari untung apakah dia bersyukur apabila mendapatkan rugi? :) bisa dikatakan seperti itu.
        
      Semoga tulisan yang saya posting hari ini bermanfaat. Mungkin karena rasa penasaran saya, membuat saya ingin tahu lebih dalam tentang makna hidup dan filosofi-filosofi yang membelenggu fikiran saya dan kita saat ini. Hidup bukanlah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, bukan tentang siapa yang mendapatkan pujian dan penghargaan lebih banyak, akan tetapi hidup yang mulia adalah ketika kita memaknai hidup ini disetiap harinya. Rendah hati salah satu jalan untuk membukakan peluang baru disekitar kita, menurut ajaran Sang Budha "Life is difficult, life is suffering"  hanya untuk orang-orang yang tidak bisa mensyukuri dan memaknai hidup ini lebih dalam. Orang-orang yang rendah hati, tidak akan menganggap hidup ini sebagai arena perlombaan, anak-anak yang menikmati hidup adalah anak-anak yang menikmati setiap tahap studinya dengan penuh semangat dan keceriaan, tanpa memikirkan apakah dia menjadi yang terbaik atau bukan, melainkan dia menikmati tahapan dalam menuntut ilmu dengan caranya. Seperti ketika dia sering bersiul, bergumam menyanyi dalam hatinya, menyiapkan coklat hangat untuk dirinya ketika sedang mengerjakan tugas tanpa ada rasa tertekan.

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Pulang

Butuh berapa ratus jam lagi, atau berapa ratus hari lagi untuk pulang kembali seperti dulu. Mungkin dengan pilihan kata yang tepat, coba fikir lagi. Pulang atau  kembali ? Pulang belum tentu kembali bukan? Oh atau aku pulang saja, tapi tak usah kembali? atau aku kembali karena pulang? Sulit memang, usia bertambah atau berkurang? secara umur mungkin bertambah, karena 1+1 tetap 2, apalagi usiamu sekarang, coba hitung sendiri, memang setiap tahun bertambah atau berkurang angkanya? ya bertambah, anak SD saja tau. Tapi mungkin berkurang, karena saat berpulang usia-usia kita pada usia puncak, yaa sebenarnya tidak menutup kemungkinan usia puncak adalah saatnya untuk pulang. Ah lebih baik kembali saja kerumah dan dirumah, daripada berpulang tapi tak kembali kan ? Masih banyak mimpi-mimpi yang belum diraih. Mulai dari menjelajahi Indonesia, tinggal di Turki, foto di Monumen Hachiko, duduk di Lembah Mandalawangi menemui arwah Alm. Soe, naik gunung Semeru, Tidur di Wae Rebo, Naik Pes...

Spirit Buku Harian

Aku senang melihat Ibuku yang setiap pagi menulis harapan dan doanya diatas sticky notes atau dibuku harian kecil yang selalu beliau bawa kemana-mana. Sempat waktu itu aku sedang membereskan dokumen lama miliki Ibuku dan menemukan buku harian ketika ibuku masih kuliah jenjang  D3. Entah spirit apa yang membuat ibuku kuat dan bertahan untuk melanjutkan kuliah hingga menyelesaikan D3nya, mungkin itu yang membuat beliau kini begitu mendukung anak sulungnya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Satu kalimat yang masih ku ingat, dan mengendap dalam fikiranku, ibuku yang menulisnya dalam buku hariannya,    " Saat ini mungkin aku tak memiliki materi cukup seperti yang lain, semoga tahun ini aku lulus dengan membanggakan, dan bekerja dengan giat. Janjiku untuk calon anakku kelak, dengan apapun aku akan mendukungnya untuk meraih cita-cita ".  Perlahan air mataku  menetes, membayangkan apa yang sedang terjadi saat ibuku menulis curahan hatinya dibuku har...

Rindu di Kedai Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com “Permisi kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan pesananku   kopi Americano . Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi sasaranku 3 menit kemudian. Suasana kedai kopi ini selalu sama, tak ada yang berubah selama 1 tahun terakhir hanya beberapa lukisan yang menggantung di dinding dan beberapa puisi menghiasi sudut-sudut ruangan. Dan jika aroma kopi yang membawamu kembali Kaki ku akan sering mengunjungi kedai ini Tak hanya memesan secangkir Lebih dari itu Lalu kau kembali Karena mencium aroma kopiku Aku membacanya berulang kali, puisi itu menempel tepat di sampingku. Hampir setiap sore berkunjung, sudut kedai ini menurutku yang terbaik. Dinding kayu berhiaskan sastra klasik, puisi-puisi dari pengunjung dan lukisan yang berbaur bersama dinding, membuat p...