Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
“Permisi
kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan
pesananku kopi Americano.
Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi
sasaranku 3 menit kemudian. Suasana kedai kopi ini selalu sama, tak ada yang
berubah selama 1 tahun terakhir hanya beberapa lukisan yang menggantung di
dinding dan beberapa puisi menghiasi sudut-sudut ruangan.
Dan
jika aroma kopi yang membawamu kembali
Kaki
ku akan sering mengunjungi kedai ini
Tak
hanya memesan secangkir
Lebih
dari itu
Lalu
kau kembali
Karena
mencium aroma kopiku
Aku
membacanya berulang kali, puisi itu menempel tepat di sampingku. Hampir setiap sore
berkunjung, sudut kedai ini menurutku yang terbaik. Dinding kayu berhiaskan
sastra klasik, puisi-puisi dari pengunjung dan lukisan yang berbaur bersama
dinding, membuat pengunjung berimajinasi bersama kopi. Suasana damai inilah
yang membuatku ingin kembali dan meresapi alunan musik sendu bersama aroma
kopi. Kelihatannya hujan di luar begitu deras, entah lamunan apa yang ku
bayangkan sore ini nyaliku belum cukup terkumpul untuk membuka amplop berwarna
cokelat dengan gambar ayunan kosong.
----------------
Tepat 2
tahun lalu aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan
buku. Lian Gumelar, dia adalah salah satu penulis berbakat dan perusahaan kami
sering menerbitkan tulisan-tulisannya, aku salah satu karyawan yang gencar
mempromosikan tulisan-tulisan Lian. Dinta namaku, seorang pegawai kontrak di
perusahaan penerbitan dan menjabat sebagai karyawan editing.
“Dinta
tolong ke ruangan saya”, suara itu terdengar sangat familiar di telingaku. Ya,
dia adalah bosku berjalan dengan sepatu kulit hitam bersama balutan hem merah
lengan panjang yang digulung hingga siku. Bosku adalah sosok laki-laki yang
sangat memperhatikan penampilan, style yang dia gunakan tidak ada duanya
di kantor. satu kata yang bisa menggambarkan bosku secara keseluruhan it`s
stylish.
“Baik
pak”, segera aku membereskan berkas-berkas yang sudah selesai ku edit dan
membawanya ke ruangan pak Rio sambil menata rambut dan meneguk sisa kopi di
meja. Aku berjalan menuju ruangan pak Rio dengan setumpuk berkas di tanganku, perasaanku
biasa saja saat di panggil ke ruangan pak Rio, mungkin karena ini sudah kedua kalinya
sebagai karyawan baru, masuk ruangan bos.
“Silahkan
duduk din”, sahut pak Rio dengan senyum dan memperkenalkan koleganya padaku.
“Perkenalkan
ini Lian Gumelar, dia penulis novel dan puisi yang bukunya sering kita
terbitkan”.
Saat itu
jam menunjukkan pukul 2 siang, jam-jam rawan kantuk. Untung saja aku sudah
menghabiskan secangkir kopi sebelum masuk ke ruangan pak Rio.
“Dinta”,
sahutku.
Setelah
mengobrol panjang lebar, akhirnya kami selesai dengan rapat yang menjemukan
itu.
“Saya berharap padamu Din”, pak Rio mengulurkan
tangannya dan menyalamiku begitu pula
dengan
Lian Gumelar, dia terlihat begitu dingin dan sedikit bicara.
Tugas
tambahan dari pak Rio menjadikan alasan aku dapat pulang lebih awal, lagipula
berkas-berkas hari ini sudah selesai ku kerjakan. Pulang lebih awal adalah
hadiah terbaik sembari menyempatkan diri untuk mencari udara segar.
Angin
yang berhembus pelan menerpa rambutku, suara sepatu yang terdengar seperti
irama jalanan dan sedikit sentuhan lagu-lagu dari I-Pod adalah hal-hal kecil
yang membuatku nyaman ketika berjalan di sore hari. Awan sore itu terlihat
gelap, seperti ada sesuatu yang ia bendung dan sebentar lagi siap untuk di
lepaskan. Walau sore ini tak seperti biasanya tetap saja hari ini adalah hari
terbaik, selain mendapatkan kepercayaan dari pak bos, aku bisa berkenalan
dengan Lian Gumelar penulis favoritku dan mendapatkan job yang berkaitan dengan
buku terbarunya. Diluar dugaan, seorang karyawan baru bisa mendapatkan
kesempatan yang cukup membanggakan.
Aku
menyempatkan diri berjalan kaki sebelum pulang menunggu bus di halte, kali itu
aku berjalan-jalan di kota tua hidungku mulai mencari-cari aroma kopi yang
terendus terbawa angin yang lumayan kencang sore itu. Aroma yang sudah tak
asing lagi bagiku, aroma tumbukan kopi robusta yang baru selesai di goreng dan
berbagai aroma penyedap kopi, menari-nari
bersama hembusan angin dan membawa langkahku berjalan ke sebuah kedai. Terlihat
sederhana dan tak terlalu besar, cukup untuk melepaskan penat. Saat pertama aku
masuk, dekorasi klasik menyambutku dan aroma kopi sangat kental. Tepat di kasir
aku memesan kopi, ada berbagai macam pena berbahan kayu lengkap dengan kertas
daur ulang berwarna cokelat yang entah untuk apa, tapi ini benar-benar konsep
kedai kopi yang berbeda. Aku memesan secangkir kopi Risretto, sehari ini
aku harus membatasi volume kopi yang ku minum.
Setelah
memesan kopi mataku mulai mencari tempat duduk ternyaman di kedai itu,
pilihanku tertambat di sudut ruangan dengan dua kursi yang berbentuk seperti anyaman,
yap sudut ruangan adalah tempat paling strategis, untuk melihat view
kedai secara penuh. Kipas angin tua berputar mengelilingi langit-langit,
seperti kembali ke mesin waktu saat belum ditemukannya pendingin ruangan,
padahal ini adalah zaman teknologi. Aku merasa sangat damai berlama-lama di
kedai baru ini. Terbesit dalam ingatan, ketika rumah keluargaku dulu masih
sekuno ini.
~Kedai
kopi kuno, kali ini aku menemukan suasana masa kecilku~ Pena ditanganku mulai mengukir
pelan.
Pandanganku
tertuju pada lelaki yang duduk sejajar denganku tempat di dekat jendela, ia
terlihat tak bergerak sama sekali memandangi kertas yang ada di mejanya, sambil
memegang pena yang sama persis terletak di kasir tempat pertama aku memesan
kopi. Samar-samar, aku tak melihat wajahnya karena ia duduk membelakangiku.
“Ah
sudahlah It`s not my bussiness”, gumamku. Aku adalah type orang yang
sering mengamati sesuatu dan menyimpulkannya sendiri. Tak terasa secangkir Risretto
sudah habis, aku berjalan keluar melewati lelaki yang dari tadi ku amati, dia
sedang menulis sesuatu di kertas. Kuberanikan diri melihat wajahnya, sedikit
melirik saat berjalan wajahnya amat familiar dan ternyata ia adalah Lian
Gumelar seorang penulis berbakat yang baru saja ku temui siang tadi. Ku kira
dia adalah laki-laki kesepian yang sedang menunggu seseorang, karena tak ada
satupun orang yang menghampirinya sedari tadi.
“Hai”
(sapaku memberanikan diri), entah dia akan membalas dengan senyum atau ketus.
Lian Gumelar memandangku tanpa ekspresi
“Iya”,
sahutnya. Bingung harus bagaimana, aku mencoba meminta duduk di sebelahnya.
“Boleh aku duduk? Aku Dinta karyawan pak Rio, baru saja kita kenalan tadi
siang”
“Iya
silahkan, aku masih ingat”, sambil merapikan kertas yang ada di depannya.
Jam
menunjukkan pukul 7 malam, tak terasa sudah 1 jam lebih aku berbincang-bincang
dengan Lian. Dia adalah sosok yang misterius, entah kenapa dia mau ngobrol
panjang lebar denganku padahal siang tadi dia terlihat begitu acuh dan dingin.
“Permisi
kak, kedai kami sedang melakukan promosi untuk menarik pengunjung, bisa kakak
tanda tangan di kertas dan menuliskan beberapa kata terkait suasana di kedai
kami ?”
“Oh iya
tentu saja, saya sangat menyukai kedai ini”, mengambil bolpoin dan menulis
beberapa kalimat sambil membubuhkan tanda tangan di bawahnya.
Kedai
kopi disini adalah yang terbaik, luangkan waktu kalian untuk menikmati racikan
kopi terbaik- Dinta
“Terimakasih
kak, semoga datang kembali”
Aku dan
Lian berjalan keluar. Angin menyambut kami dengan hangat, sayup-sayup suara
musik jazz terdengar dari cafe sebelah.
“Din,
mungkin kita bisa bertemu kembali”
“Haha,
tentu saja kapanpun. Bila kau butuh teman ngopi, aku siap sedia”, sahutku
dengan senyum.
“Hati-hati
di jalan, maaf aku tidak bisa mengantar karena ada pekerjaan setelah ini”
“Nggak
papa, santai aja. Bye”
---------------
“Selamat
pagi”, aku berjalan dengan wajah berbinar hari ini, ya walaupun tadi malam aku
sempat begadang bersama kopi.
“Selamat
pagi”, Pak Rio datang bersamaan denganku
“Hai
Dinta, bisa ke ruanganku?”
“Baik
pak, saya segera keruangan bapak”
Aroma-aroma
keceriaan terlihat di wajah Pak Rio dan wajahku, entah mengapa hari ini aku
begitu bersemangat.
“Silahkan
duduk Din”
Aku
membenarkan posisi duduk dengan kursi warna hijau pak Rio.
“Din,
sepertinya kamu berbakat menulis puisi. Apa kamu punya draft puisi-puisi
karyamu?”, pak Rio bertanya langsung tanpa basa-basi
“Iya
pak, kok bapak tau?”
“Kemarin
ada seseorang yang memberitahu saya, kalau kamu sepertinya punya bakat menulis.
Dan bila kamu mau, saya bisa lihat draft puisi-puisi kamu, mungkin saya bisa
membantu menerbitkan. Yaaa tergantung, bagus atau tidak kamu bisa konsultasi
dengan Lian Gumelar untuk masalah puisimu”
“Wah,
bapak serius? Terima kasih banyak pak. Ini impian saya sejak kecil, bisa
menerbitkan buku. Eh maaf pak saya terlalu bersemangat”
“Iya
kita kan juga masih sepantaran, biasa saja. Kamu bisa kembali ke meja kerja”
“Baik
pak terima kasih”
Raut
wajahku mulai tak bisa dikondisikan, senang, haru dan ah sulit untuk
mendeskripsikan perasaaanku saat itu. Aku berfikir untuk berkonsultasi dengan
Lian Gumelar tentang draft-draft puisiku.
“Selamat
pagi, aku Dinta. Maaf mengganggu Lian, apa kita bisa bertemu?”, pesan singkatku telah melayang
di udara menuju telepon genggam Lian. Mungkin dia akan membalasnya sore, karena
Lian adalah type laki-laki yang sibuk, yaa aku bisa menebaknya setelah
pertemuan kita kemarin malam, dia sepertinya memiliki banyak pekerjaan.
*ting,
suara ponselku terdengar ada pesan masuk pagi ini
“Iya
Din, selamat pagi. Mungkin kita bisa bertemu nanti sore di Kedai kopi kemarin”
Aku
sangat senang membaca pesan singkat itu, bagaimana tidak Lian Gumelar membalas
pesanku sekitar 5 menit setelah aku mengirimkannya.
------
Waktu
pun berlalu, aku menunggu Lian di kedai kopi di kota tua. Manisnya coffee latte
sore ini, mewakili moodku yang sedang berbunga-bunga.
“Hai
Dinta, maaf lama menunggu”, Lian datang tepat pada waktunya. Dia adalah type
laki-laki yang on time.
“Nggak,
aku juga baru memesan kopi”, sahutku.
Pelayan
kedai datang dan memberikan menu kepada Lian.
“Americano”,
sahut Lian
“Ada apa
Din, sepertinya ada hal yang ingin kamu bicarakan?”, Lian menebak dengan tepat.
Sepertinya dia bisa membaca mataku, bahwa aku mengajaknya bertemu ada sesuatu
yang ingin ku bicarakan.
“Begini,
selepas dari proyek kita kemarin bersama Pak Rio. Apa kamu sudah diberitahu
oleh Pak Rio?”
“Belum”,
sambil meminum kopi Americano yang baru saja ia pesan
“Mmmm,
pak Rio ingin agar kamu melihat draft puisi-puisiku. Mungkin kamu bisa
membantuku untuk menilai seberapa layak puisiku untuk di terbitkan”
Lian
tersenyum
“Ternyata
akan ada pesaing baru, aku harus siap”, Lian menjawab dengan ekspresi wajah
yang tak bisa ku tebak, apakah dia mau atau apa dia tersinggung aku juga sering
menulis puisi.
“Bukan
begitu maksudku, aku hanya..”
“Baik-baik,
aku bercanda Din. Mana draft puisi-puisimu. Bisa aku copy? Haha, aku malah
senang kamu tertarik dengan puisi”, Lian memotong pembicaraanku.
----------
Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku sudah tiba
di rumah. Kamar 5x4 yang selalu memberiku inspirasi baru untuk menulis. Aku
membaca puisi-puisi yang ada di kotak simpananku, sudah hampir setengah tahun
ini aku saling mengirim surat dengan sahabat penaku. Yaa walaupun dua hari baru
terkirim lewat pos, padahal ini zaman tekhnologi, tetap saja aku memeliahara
budaya surat menyurat. Malam itu aku membaca surat-surat yang telah sahabat
penaku kirimkan, ia bercerita tentang teman karibnya semasa kecil hingga sekarang.
sepertinya dia begitu antusias ketika bercerita teman karibnya semasa kecil,
hingga dia lupa bahwa kemarin aku mengirim surat membahas tentang pekerjaan
baruku. Nama penanya adalah Ombak, dan nama penaku ku adalah Prames yang
sebenarnya Pramesti yang di ambil dari nama terakhirku Dinta Pramesti.
*1
Minggu kemudian
“Dinta,
selamat !”, Pak Rio menghampiriku di meja kerjaku.
“Selamat
untuk apa ya pak?”
“Taraaa,
haha ini buku kumpulan puisi kamu sudah terbit”, aku ternganga dan kaget
melihat buku bersampul cokelat dengan ayunan kosong dan bertuliskan
Malam
dan Kita-Penulis, Dinta
“Pak
Rio, terima kasih banyak. Saya bingung harus berkata apa”
“Santai
Din, karena pekerjaan kamu bagus ini adalah hadiah kamu. Lagipula perusahaan
kita juga tidak rugi menerbitkan bukumu,yaa karena kita juga dapat komisi dari
penjulannya”, pak Rio tertawa sangat puas.
Bosku
yang satu ini memang baik dan sangat menyayangi karyawan-karyawannya, termasuk
aku haha (gumamku dalam hati).
Ucapan
selamat diberikan oleh teman-teman sekantorku, aku sangat bahagia melihat buku
di hadapanku, masih tak percaya bahwa itu adalah karyaku.
Selepas
aku bertemu dengan Lian Gumelar seminggu yang lalu, aku tidak bertemu dengannya
lagi. Ku fikir puisiku tidak jadi terbit, karena Lian Gumelar tidak memberikan
tanggapan apapun apakah dia menyerahkan draft puisi-puisiku kepada pak Rio
setelah dia menelitinya atau dia hanya menyerahkannya tanpa meneliti sekalipun.
Entahlah, aku tidak tahu yang penting hari ini aku senang sekali.
---------
“Pelayan,
saya pesan coffee latte”
Setelah
aku menemukan kedai kopi di kota tua ini, hampir setiap sore aku berkunjung
untuk menikmati racikan kopi terbaik memanjakan hidungku menikmati aroma-aroma
kopi.
Hari ini
aku menerima surat dari sahabat penaku, tak sabar aku ingin membacanya.
Selamat
sore, hai Prames....
Tak
terasa ya, kita sudah surat menyurat hampir 7 bulan.
Bodohnya
aku yang tak pernah mengajakmu bertemu, yaa kamu sudah tau aku adalah type
orang yang introvert, aku lebih nyaman mengungkapkan perasaanku dengan menulis,
dan aku senang bisa memiliki teman, sahabat sepertimu yang bisa memahamiku.
Sejujurnya aku sangat berharap bisa bertatap muka denganmu. Mungkin aku
terlihat sangat pengecut, tapi aku benar-benar merindukanmu. Saat aku menulis
surat ini, aku sedang bingung harus bagaimana aku akan melanjutkan pendidikanku
di luar negeri dan mungkin akan semakin lama jika kita tetap surat menyurat
seperti ini. Tunggu aku hingga aku pulang ke tanah air, aku akan bertemu
denganmu dan kau akan tau bagaimana wujud dari sesosok Ombak.
Salam
Rindu
Ombak
Air
mataku menetes deras, entah kenapa hatiku sangat sakit membacanya. Aku berfikir
memang Ombak adalah sosok laki-laki yang pengecut, dia meninggalkanku tanpa
memberiku kesempatan melihat wajahnya selama ini. Lalu, apa dia sama sekali
tidak ingin bertemu denganku, sampai kapan aku harus menunggu. Coffee latte
sore ini berubah sangat pahit, aku merasa meminum Americano, fikiranku
sangat kacau dan perasaanku campur aduk setengah mati. Hari ini adalah hari
yang sangat membahagiakan bagiku, buku pertamaku telah terbit. Awan hitam apa
yang sekarang sedang menghujani kepalaku, hampir 7 bulan ini kami berteman
dekat, bahkan sangat dekat lebih dari sahabat pena.
-----
Penjualan
bukuku meningkat hari demi hari, tapi entah kenapa hatiku sangat risau.
“Dinta,
bisa ke ruangan saya”, Pak Rio membuyarkan lamunanku
“Baik
pak”
“Din,
sepertinya kamu akhir-akhir ini murung sekali. Padahal buku kamu sudah terbit
dan penjualannya mengalami peningkatan hari demi hari”
“Mungkin
saya kurang enak badan pak, O iya pak saya lupa mengucapkan Terima Kasih kepada
Lian Gumelar, apakah dia sudah mengkonfirmasi kepada bapak bahwa puisi saya
layak di terbitkan ?”
“Oh, iya
Din sudah Lian Gumelar yang meyakinkan saya bahwa buku kamu layak untuk di
terbitkan”
“Tolong
sampaikan rasa terima kasih saya kepada Lian pak”
“Iya Din
pasti, mmm untuk project kamu dengan Lian kemarin mengalami kendala entah kapan
akan di laksanakan. Lian Gumelar sedang mengurus kepindahannya sementara”
“Baik
pak permisi”
“Din? Eh
tidak jadi”, pak Rio berhenti melanjutkan pembicarannya.
Detik
demi detik berlalu, menit demi menit juga berlalu aku merasa bosan di meja
kerjaku. Entah kenapa moodku berubah hanya gara-gara laki-laki yang sering
menyuratiku pergi tanpa memberi kabar. Aku berencana ingin memberikan royalti
penjualan bukuku untuk Panti Asuhan Kanker Anak.
“Selamat
siang Pak, boleh saya masuk?”, aku mengetuk pintu ruangan pak Rio
“Silahkan”
Aku
mulai duduk dan berbicara
“Begini
pak, untuk royalti penjualan buku saya sepertinya akan lebih baik jika di
sumbangkan pada Panti Asuhan Kanker Anak. Karena itu adalah buku pertama saya,
akan lebih baik jika saya sumbangkan royalti pertama saya”
“Bila
itu keputusanmu, tidak apa-apa Din”
“Baik
pak, terima kasih. Permisi”
Aku
berdiri dari tempat duduk, mengambil buku catatan yang ku letakkan di meja Pak
Rio. Amplop cokelat beragambar ayunan kosong, terlihat tergeletak di atas
tumpukan berkas milik Pak Rio. Sepertinya aku kenal amplop itu (gumamku dalam
hati)
“Maaf
pak, amplop itu milik bapak?”
“Mmmm,
bukan Din. Seseorang memberikannya padaku”, mata pak Rio tidak seperti biasanya
saat menjawab pertanyaanku
“Amlop
itu seperti amplop teman saya, dan saya fikir amplop itu hanya satu-satunya
karena teman saya bilang bahwa amplop yang selalu ia kirim adalah amplopnya
sendiri”
“Baik
Din, silahkan duduk saya jelaskan”
Aku
kembali duduk di kursi pak Rio, ingin mendengarkan penjelasan beliau tentang
amplop itu. Perasaanku mulai tidak enak, saat pak Rio mulai membuka
pembicaraan.
“Sebenarnya
saya sudah kenal sangat lama dengan Lian Gumelar, dan dia adalah teman masa
kecil saya”, aku teringat isi surat yang Ombak kirimkan dulu.
“Lian
Gumelar adalah sahabat pena Prames, karena puisi-puisi Prames dia bangkit dari
keterpurukan dan mulai menulis, hanya 4 bulan dia mengenal Prames lewat surat
ia menjadi penulis terkenal”
Hatiku
sangat hancur berkeping-keping saat itu, entah harus bagaimana menanggapi
kenyataan bahwa Ombak adalah Lian Gumelar, dan dia sangat pengecut kenapa tidak
memberitahuku bahwa ia adalah Ombak.
“Maaf
Din kamu pasti sangat bingung, dan saya tidak bisa menjelaskan posisi Lian. Ini
adalah suratnya untukmu. Seharusnya aku memberinya padamu lebih awal”.
Air
mataku kembali jatuh, dan parahnya di hadapan Pak Rio yang dia adalah bosku,
ternyata ia adalah teman masa kecil Ombak atau Lian Gumelar (apalah) aku
bingung sekali.
Aku menerimanya
dan pergi begitu saja, dan aku merasa di permainkan oleh mereka berdua.
Hai
Prames, Dinta
Maaf
aku tidak memberitahumu, karena ada alasan mengapa aku tidak memberitahumu
bahwa aku Ombak. Mungkin kau bertanya-tanya, dan mungkin saat ini kau sedang
mengumpat karenaku. Maaf dan maaf sekali
lagi, aku menitipkan surat ini kepada Rio semoga dia memberikannya di waktu
yang tepat.
Ombak,
Lian G
Salam
Hangat
-------
Semenjak
kejadian 1 tahun lalu, aku sudah mengundurkan diri di perusahaan Pak Rio.
Sekarang aku fokus menjadi pengasuh anak-anak penderita kanker. Sebenarnya aku
tidak sedih, hanya merasa kecewa dan merasa dipermainkan oleh mereka. Jujur aku
masih menunggu Lian Gumelar kembali dan menunggu jawaban darinya, mengapa dia
seperti itu. Teka-teki itulah yang membuatku bertahan hingga kini menunggu
Lian.
Sudah
lama aku di Kedai kopi ini, hampir setiap minggu Lian mengirimiku surat tapi
belum aku baca sama sekali. Sore ini akan ku beranikan mungkin teka-tekiku akan
terjawab setalah membaca suratnya. Kopi Americano, dan amplop cokelat
dengaan ayunan kosong di tanganku.
“Permisi
kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan
pesananku kopi Americano.
Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi
sasaranku 3 menit kemudian.
Surat
pertama yang ku baca adalah surat terakhir dari Lian
Hai
Dinta,
Bagaimana
kabarmu? Sudah 1 tahun aku meninggalkanmu, entah kau bertanya-tanya atau kau
sudah melupakanku. Aku masih belum melupakanmu, bila saat ini kau sedang di
kedai kopi itu, tengoklah ada puisi yang menggantung :
Dan
jika aroma kopi yang membawamu kembali
Kaki
ku akan sering mengunjungi kedai ini
Tak
hanya memesan secangkir
Lebih
dari itu
Lalu
kau kembali
Karena
mencium aroma kopiku
Itu adalah
puisi untukmu, kau akan segera tahu jawabannya sebentar lagi.
Salam
rindu
Ombak
“Dasar
pengecut, sampai kapan aku menunggu !”, aku berteriak lupa bahwa saat ini aku
sedang berada di kedai. Jawaban dari Lian adalah hadiah terbaikku, mungkin sebentar
lagi dan teka-teki ini akan terjawab.
Salam
rindu
Dinta
Membubuhkan
tulisan di bawah amplop cokelat bergambar gantungan kosong.
Komentar
Posting Komentar