Langsung ke konten utama

Rindu di Kedai Kopi


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com


“Permisi kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan pesananku  kopi Americano. Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi sasaranku 3 menit kemudian. Suasana kedai kopi ini selalu sama, tak ada yang berubah selama 1 tahun terakhir hanya beberapa lukisan yang menggantung di dinding dan beberapa puisi menghiasi sudut-sudut ruangan.

Dan jika aroma kopi yang membawamu kembali
Kaki ku akan sering mengunjungi kedai ini
Tak hanya memesan secangkir
Lebih dari itu
Lalu kau kembali
Karena mencium aroma kopiku

Aku membacanya berulang kali, puisi itu menempel tepat di sampingku. Hampir setiap sore berkunjung, sudut kedai ini menurutku yang terbaik. Dinding kayu berhiaskan sastra klasik, puisi-puisi dari pengunjung dan lukisan yang berbaur bersama dinding, membuat pengunjung berimajinasi bersama kopi. Suasana damai inilah yang membuatku ingin kembali dan meresapi alunan musik sendu bersama aroma kopi. Kelihatannya hujan di luar begitu deras, entah lamunan apa yang ku bayangkan sore ini nyaliku belum cukup terkumpul untuk membuka amplop berwarna cokelat dengan gambar ayunan kosong.
----------------
Tepat 2 tahun lalu aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku. Lian Gumelar, dia adalah salah satu penulis berbakat dan perusahaan kami sering menerbitkan tulisan-tulisannya, aku salah satu karyawan yang gencar mempromosikan tulisan-tulisan Lian. Dinta namaku, seorang pegawai kontrak di perusahaan penerbitan dan menjabat sebagai karyawan editing.
“Dinta tolong ke ruangan saya”, suara itu terdengar sangat familiar di telingaku. Ya, dia adalah bosku berjalan dengan sepatu kulit hitam bersama balutan hem merah lengan panjang yang digulung hingga siku. Bosku adalah sosok laki-laki yang sangat memperhatikan penampilan, style yang dia gunakan tidak ada duanya di kantor. satu kata yang bisa menggambarkan bosku secara keseluruhan it`s stylish.

“Baik pak”, segera aku membereskan berkas-berkas yang sudah selesai ku edit dan membawanya ke ruangan pak Rio sambil menata rambut dan meneguk sisa kopi di meja. Aku berjalan menuju ruangan pak Rio dengan setumpuk berkas di tanganku, perasaanku biasa saja saat di panggil ke ruangan pak Rio, mungkin karena ini sudah kedua kalinya sebagai karyawan baru, masuk ruangan bos.

“Silahkan duduk din”, sahut pak Rio dengan senyum dan memperkenalkan koleganya padaku.

“Perkenalkan ini Lian Gumelar, dia penulis novel dan puisi yang bukunya sering kita terbitkan”.

Saat itu jam menunjukkan pukul 2 siang, jam-jam rawan kantuk. Untung saja aku sudah menghabiskan secangkir kopi sebelum masuk ke ruangan pak Rio.

“Dinta”, sahutku.

Setelah mengobrol panjang lebar, akhirnya kami selesai dengan rapat yang menjemukan itu.

 “Saya berharap padamu Din”, pak Rio mengulurkan tangannya dan menyalamiku begitu pula
dengan Lian Gumelar, dia terlihat begitu dingin dan sedikit bicara.
Tugas tambahan dari pak Rio menjadikan alasan aku dapat pulang lebih awal, lagipula berkas-berkas hari ini sudah selesai ku kerjakan. Pulang lebih awal adalah hadiah terbaik sembari menyempatkan diri untuk mencari udara segar.

Angin yang berhembus pelan menerpa rambutku, suara sepatu yang terdengar seperti irama jalanan dan sedikit sentuhan lagu-lagu dari I-Pod adalah hal-hal kecil yang membuatku nyaman ketika berjalan di sore hari. Awan sore itu terlihat gelap, seperti ada sesuatu yang ia bendung dan sebentar lagi siap untuk di lepaskan. Walau sore ini tak seperti biasanya tetap saja hari ini adalah hari terbaik, selain mendapatkan kepercayaan dari pak bos, aku bisa berkenalan dengan Lian Gumelar penulis favoritku dan mendapatkan job yang berkaitan dengan buku terbarunya. Diluar dugaan, seorang karyawan baru bisa mendapatkan kesempatan yang cukup membanggakan.

Aku menyempatkan diri berjalan kaki sebelum pulang menunggu bus di halte, kali itu aku berjalan-jalan di kota tua hidungku mulai mencari-cari aroma kopi yang terendus terbawa angin yang lumayan kencang sore itu. Aroma yang sudah tak asing lagi bagiku, aroma tumbukan kopi robusta yang baru selesai di goreng dan berbagai aroma penyedap kopi,  menari-nari bersama hembusan angin dan membawa langkahku berjalan ke sebuah kedai. Terlihat sederhana dan tak terlalu besar, cukup untuk melepaskan penat. Saat pertama aku masuk, dekorasi klasik menyambutku dan aroma kopi sangat kental. Tepat di kasir aku memesan kopi, ada berbagai macam pena berbahan kayu lengkap dengan kertas daur ulang berwarna cokelat yang entah untuk apa, tapi ini benar-benar konsep kedai kopi yang berbeda. Aku memesan secangkir kopi Risretto, sehari ini aku harus membatasi volume kopi yang ku minum.
Setelah memesan kopi mataku mulai mencari tempat duduk ternyaman di kedai itu, pilihanku tertambat di sudut ruangan dengan dua kursi yang berbentuk seperti anyaman, yap sudut ruangan adalah tempat paling strategis, untuk melihat view kedai secara penuh. Kipas angin tua berputar mengelilingi langit-langit, seperti kembali ke mesin waktu saat belum ditemukannya pendingin ruangan, padahal ini adalah zaman teknologi. Aku merasa sangat damai berlama-lama di kedai baru ini. Terbesit dalam ingatan, ketika rumah keluargaku dulu masih sekuno ini.
~Kedai kopi kuno, kali ini aku menemukan suasana masa kecilku~ Pena ditanganku mulai mengukir pelan.

Pandanganku tertuju pada lelaki yang duduk sejajar denganku tempat di dekat jendela, ia terlihat tak bergerak sama sekali memandangi kertas yang ada di mejanya, sambil memegang pena yang sama persis terletak di kasir tempat pertama aku memesan kopi. Samar-samar, aku tak melihat wajahnya karena ia duduk membelakangiku.
“Ah sudahlah It`s not my bussiness”, gumamku. Aku adalah type orang yang sering mengamati sesuatu dan menyimpulkannya sendiri. Tak terasa secangkir Risretto sudah habis, aku berjalan keluar melewati lelaki yang dari tadi ku amati, dia sedang menulis sesuatu di kertas. Kuberanikan diri melihat wajahnya, sedikit melirik saat berjalan wajahnya amat familiar dan ternyata ia adalah Lian Gumelar seorang penulis berbakat yang baru saja ku temui siang tadi. Ku kira dia adalah laki-laki kesepian yang sedang menunggu seseorang, karena tak ada satupun orang yang menghampirinya sedari tadi.

“Hai” (sapaku memberanikan diri), entah dia akan membalas dengan senyum atau ketus. Lian Gumelar memandangku tanpa ekspresi
“Iya”, sahutnya. Bingung harus bagaimana, aku mencoba meminta duduk di sebelahnya. “Boleh aku duduk? Aku Dinta karyawan pak Rio, baru saja kita kenalan tadi siang”
“Iya silahkan, aku masih ingat”, sambil merapikan kertas yang ada di depannya.

Jam menunjukkan pukul 7 malam, tak terasa sudah 1 jam lebih aku berbincang-bincang dengan Lian. Dia adalah sosok yang misterius, entah kenapa dia mau ngobrol panjang lebar denganku padahal siang tadi dia terlihat begitu acuh dan dingin.
“Permisi kak, kedai kami sedang melakukan promosi untuk menarik pengunjung, bisa kakak tanda tangan di kertas dan menuliskan beberapa kata terkait suasana di kedai kami ?”

“Oh iya tentu saja, saya sangat menyukai kedai ini”, mengambil bolpoin dan menulis beberapa kalimat sambil membubuhkan tanda tangan di bawahnya.

Kedai kopi disini adalah yang terbaik, luangkan waktu kalian untuk menikmati racikan kopi terbaik- Dinta

“Terimakasih kak, semoga datang kembali”

Aku dan Lian berjalan keluar. Angin menyambut kami dengan hangat, sayup-sayup suara musik jazz terdengar dari cafe sebelah.

“Din, mungkin kita bisa bertemu kembali”

“Haha, tentu saja kapanpun. Bila kau butuh teman ngopi, aku siap sedia”, sahutku dengan senyum.

“Hati-hati di jalan, maaf aku tidak bisa mengantar karena ada pekerjaan setelah ini”

“Nggak papa, santai aja. Bye”
---------------
 
“Selamat pagi”, aku berjalan dengan wajah berbinar hari ini, ya walaupun tadi malam aku sempat begadang bersama kopi.

“Selamat pagi”, Pak Rio datang bersamaan denganku

“Hai Dinta, bisa ke ruanganku?”

“Baik pak, saya segera keruangan bapak”

Aroma-aroma keceriaan terlihat di wajah Pak Rio dan wajahku, entah mengapa hari ini aku begitu bersemangat.

“Silahkan duduk Din”
Aku membenarkan posisi duduk dengan kursi warna hijau pak Rio.

“Din, sepertinya kamu berbakat menulis puisi. Apa kamu punya draft puisi-puisi karyamu?”, pak Rio bertanya langsung tanpa basa-basi

“Iya pak, kok bapak tau?”

“Kemarin ada seseorang yang memberitahu saya, kalau kamu sepertinya punya bakat menulis. Dan bila kamu mau, saya bisa lihat draft puisi-puisi kamu, mungkin saya bisa membantu menerbitkan. Yaaa tergantung, bagus atau tidak kamu bisa konsultasi dengan Lian Gumelar untuk masalah puisimu”

“Wah, bapak serius? Terima kasih banyak pak. Ini impian saya sejak kecil, bisa menerbitkan buku. Eh maaf pak saya terlalu bersemangat”

“Iya kita kan juga masih sepantaran, biasa saja. Kamu bisa kembali ke meja kerja”

“Baik pak terima kasih”
Raut wajahku mulai tak bisa dikondisikan, senang, haru dan ah sulit untuk mendeskripsikan perasaaanku saat itu. Aku berfikir untuk berkonsultasi dengan Lian Gumelar tentang draft-draft puisiku.

“Selamat pagi, aku Dinta. Maaf mengganggu Lian, apa kita bisa bertemu?”, pesan singkatku telah melayang di udara menuju telepon genggam Lian. Mungkin dia akan membalasnya sore, karena Lian adalah type laki-laki yang sibuk, yaa aku bisa menebaknya setelah pertemuan kita kemarin malam, dia sepertinya memiliki banyak pekerjaan.

*ting, suara ponselku terdengar ada pesan masuk pagi ini

“Iya Din, selamat pagi. Mungkin kita bisa bertemu nanti sore di Kedai kopi kemarin”

Aku sangat senang membaca pesan singkat itu, bagaimana tidak Lian Gumelar membalas pesanku sekitar 5 menit setelah aku mengirimkannya.
------
Waktu pun berlalu, aku menunggu Lian di kedai kopi di kota tua. Manisnya coffee latte sore ini, mewakili moodku yang sedang berbunga-bunga.

“Hai Dinta, maaf lama menunggu”, Lian datang tepat pada waktunya. Dia adalah type laki-laki yang on time.

“Nggak, aku juga baru memesan kopi”, sahutku.

Pelayan kedai datang dan memberikan menu kepada Lian.

“Americano”, sahut Lian

“Ada apa Din, sepertinya ada hal yang ingin kamu bicarakan?”, Lian menebak dengan tepat. Sepertinya dia bisa membaca mataku, bahwa aku mengajaknya bertemu ada sesuatu yang ingin ku bicarakan.

“Begini, selepas dari proyek kita kemarin bersama Pak Rio. Apa kamu sudah diberitahu oleh Pak Rio?”

“Belum”, sambil meminum kopi Americano yang baru saja ia pesan

“Mmmm, pak Rio ingin agar kamu melihat draft puisi-puisiku. Mungkin kamu bisa membantuku untuk menilai seberapa layak puisiku untuk di terbitkan”

Lian tersenyum

“Ternyata akan ada pesaing baru, aku harus siap”, Lian menjawab dengan ekspresi wajah yang tak bisa ku tebak, apakah dia mau atau apa dia tersinggung aku juga sering menulis puisi.

“Bukan begitu maksudku, aku hanya..”

“Baik-baik, aku bercanda Din. Mana draft puisi-puisimu. Bisa aku copy? Haha, aku malah senang kamu tertarik dengan puisi”, Lian memotong pembicaraanku.

----------

 Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku sudah tiba di rumah. Kamar 5x4 yang selalu memberiku inspirasi baru untuk menulis. Aku membaca puisi-puisi yang ada di kotak simpananku, sudah hampir setengah tahun ini aku saling mengirim surat dengan sahabat penaku. Yaa walaupun dua hari baru terkirim lewat pos, padahal ini zaman tekhnologi, tetap saja aku memeliahara budaya surat menyurat. Malam itu aku membaca surat-surat yang telah sahabat penaku kirimkan, ia bercerita tentang teman karibnya semasa kecil hingga sekarang. sepertinya dia begitu antusias ketika bercerita teman karibnya semasa kecil, hingga dia lupa bahwa kemarin aku mengirim surat membahas tentang pekerjaan baruku. Nama penanya adalah Ombak, dan nama penaku ku adalah Prames yang sebenarnya Pramesti yang di ambil dari nama terakhirku Dinta Pramesti.

*1 Minggu kemudian

“Dinta, selamat !”, Pak Rio menghampiriku di meja kerjaku.
“Selamat untuk apa ya pak?”
“Taraaa, haha ini buku kumpulan puisi kamu sudah terbit”, aku ternganga dan kaget melihat buku bersampul cokelat dengan ayunan kosong dan bertuliskan

Malam dan Kita-Penulis, Dinta

“Pak Rio, terima kasih banyak. Saya bingung harus berkata apa”

“Santai Din, karena pekerjaan kamu bagus ini adalah hadiah kamu. Lagipula perusahaan kita juga tidak rugi menerbitkan bukumu,yaa karena kita juga dapat komisi dari penjulannya”, pak Rio tertawa sangat puas.
Bosku yang satu ini memang baik dan sangat menyayangi karyawan-karyawannya, termasuk aku haha (gumamku dalam hati).
Ucapan selamat diberikan oleh teman-teman sekantorku, aku sangat bahagia melihat buku di hadapanku, masih tak percaya bahwa itu adalah karyaku.

Selepas aku bertemu dengan Lian Gumelar seminggu yang lalu, aku tidak bertemu dengannya lagi. Ku fikir puisiku tidak jadi terbit, karena Lian Gumelar tidak memberikan tanggapan apapun apakah dia menyerahkan draft puisi-puisiku kepada pak Rio setelah dia menelitinya atau dia hanya menyerahkannya tanpa meneliti sekalipun. Entahlah, aku tidak tahu yang penting hari ini aku senang sekali.
---------
“Pelayan, saya pesan coffee latte”
Setelah aku menemukan kedai kopi di kota tua ini, hampir setiap sore aku berkunjung untuk menikmati racikan kopi terbaik memanjakan hidungku menikmati aroma-aroma kopi.
Hari ini aku menerima surat dari sahabat penaku, tak sabar aku ingin  membacanya.

Selamat sore, hai Prames....
Tak terasa ya, kita sudah surat menyurat hampir 7 bulan.
Bodohnya aku yang tak pernah mengajakmu bertemu, yaa kamu sudah tau aku adalah type orang yang introvert, aku lebih nyaman mengungkapkan perasaanku dengan menulis, dan aku senang bisa memiliki teman, sahabat sepertimu yang bisa memahamiku. Sejujurnya aku sangat berharap bisa bertatap muka denganmu. Mungkin aku terlihat sangat pengecut, tapi aku benar-benar merindukanmu. Saat aku menulis surat ini, aku sedang bingung harus bagaimana aku akan melanjutkan pendidikanku di luar negeri dan mungkin akan semakin lama jika kita tetap surat menyurat seperti ini. Tunggu aku hingga aku pulang ke tanah air, aku akan bertemu denganmu dan kau akan tau bagaimana wujud dari sesosok Ombak.

Salam Rindu
Ombak

Air mataku menetes deras, entah kenapa hatiku sangat sakit membacanya. Aku berfikir memang Ombak adalah sosok laki-laki yang pengecut, dia meninggalkanku tanpa memberiku kesempatan melihat wajahnya selama ini. Lalu, apa dia sama sekali tidak ingin bertemu denganku, sampai kapan aku harus menunggu. Coffee latte sore ini berubah sangat pahit, aku merasa meminum Americano, fikiranku sangat kacau dan perasaanku campur aduk setengah mati. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku, buku pertamaku telah terbit. Awan hitam apa yang sekarang sedang menghujani kepalaku, hampir 7 bulan ini kami berteman dekat, bahkan sangat dekat lebih dari sahabat pena.

-----
Penjualan bukuku meningkat hari demi hari, tapi entah kenapa hatiku sangat risau.
“Dinta, bisa ke ruangan saya”, Pak Rio membuyarkan lamunanku

“Baik pak”

“Din, sepertinya kamu akhir-akhir ini murung sekali. Padahal buku kamu sudah terbit dan penjualannya mengalami peningkatan hari demi hari”

“Mungkin saya kurang enak badan pak, O iya pak saya lupa mengucapkan Terima Kasih kepada Lian Gumelar, apakah dia sudah mengkonfirmasi kepada bapak bahwa puisi saya layak di terbitkan ?”

“Oh, iya Din sudah Lian Gumelar yang meyakinkan saya bahwa buku kamu layak untuk di terbitkan”

“Tolong sampaikan rasa terima kasih saya kepada Lian pak”

“Iya Din pasti, mmm untuk project kamu dengan Lian kemarin mengalami kendala entah kapan akan di laksanakan. Lian Gumelar sedang mengurus kepindahannya sementara”

“Baik pak permisi”

“Din? Eh tidak jadi”, pak Rio berhenti melanjutkan pembicarannya.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit juga berlalu aku merasa bosan di meja kerjaku. Entah kenapa moodku berubah hanya gara-gara laki-laki yang sering menyuratiku pergi tanpa memberi kabar. Aku berencana ingin memberikan royalti penjualan bukuku untuk Panti Asuhan Kanker Anak.

“Selamat siang Pak, boleh saya masuk?”, aku mengetuk pintu ruangan pak Rio

“Silahkan”

Aku mulai duduk dan berbicara

“Begini pak, untuk royalti penjualan buku saya sepertinya akan lebih baik jika di sumbangkan pada Panti Asuhan Kanker Anak. Karena itu adalah buku pertama saya, akan lebih baik jika saya sumbangkan royalti pertama saya”

“Bila itu keputusanmu, tidak apa-apa Din”

“Baik pak, terima kasih. Permisi”

Aku berdiri dari tempat duduk, mengambil buku catatan yang ku letakkan di meja Pak Rio. Amplop cokelat beragambar ayunan kosong, terlihat tergeletak di atas tumpukan berkas milik Pak Rio. Sepertinya aku kenal amplop itu (gumamku dalam hati)

“Maaf pak, amplop itu milik bapak?”
“Mmmm, bukan Din. Seseorang memberikannya padaku”, mata pak Rio tidak seperti biasanya saat menjawab pertanyaanku

“Amlop itu seperti amplop teman saya, dan saya fikir amplop itu hanya satu-satunya karena teman saya bilang bahwa amplop yang selalu ia kirim adalah amplopnya sendiri”

“Baik Din, silahkan duduk saya jelaskan”
Aku kembali duduk di kursi pak Rio, ingin mendengarkan penjelasan beliau tentang amplop itu. Perasaanku mulai tidak enak, saat pak Rio mulai membuka pembicaraan.

“Sebenarnya saya sudah kenal sangat lama dengan Lian Gumelar, dan dia adalah teman masa kecil saya”, aku teringat isi surat yang Ombak kirimkan dulu.
“Lian Gumelar adalah sahabat pena Prames, karena puisi-puisi Prames dia bangkit dari keterpurukan dan mulai menulis, hanya 4 bulan dia mengenal Prames lewat surat ia menjadi penulis terkenal”

Hatiku sangat hancur berkeping-keping saat itu, entah harus bagaimana menanggapi kenyataan bahwa Ombak adalah Lian Gumelar, dan dia sangat pengecut kenapa tidak memberitahuku bahwa ia adalah Ombak.

“Maaf Din kamu pasti sangat bingung, dan saya tidak bisa menjelaskan posisi Lian. Ini adalah suratnya untukmu. Seharusnya aku memberinya padamu lebih awal”.

Air mataku kembali jatuh, dan parahnya di hadapan Pak Rio yang dia adalah bosku, ternyata ia adalah teman masa kecil Ombak atau Lian Gumelar (apalah) aku bingung sekali.
Aku menerimanya dan pergi begitu saja, dan aku merasa di permainkan oleh mereka berdua.

Hai Prames, Dinta
Maaf aku tidak memberitahumu, karena ada alasan mengapa aku tidak memberitahumu bahwa aku Ombak. Mungkin kau bertanya-tanya, dan mungkin saat ini kau sedang mengumpat karenaku. Maaf  dan maaf sekali lagi, aku menitipkan surat ini kepada Rio semoga dia memberikannya di waktu yang tepat.

Ombak, Lian G
Salam Hangat

-------
Semenjak kejadian 1 tahun lalu, aku sudah mengundurkan diri di perusahaan Pak Rio. Sekarang aku fokus menjadi pengasuh anak-anak penderita kanker. Sebenarnya aku tidak sedih, hanya merasa kecewa dan merasa dipermainkan oleh mereka. Jujur aku masih menunggu Lian Gumelar kembali dan menunggu jawaban darinya, mengapa dia seperti itu. Teka-teki itulah yang membuatku bertahan hingga kini menunggu Lian.

Sudah lama aku di Kedai kopi ini, hampir setiap minggu Lian mengirimiku surat tapi belum aku baca sama sekali. Sore ini akan ku beranikan mungkin teka-tekiku akan terjawab setalah membaca suratnya. Kopi Americano, dan amplop cokelat dengaan ayunan kosong di tanganku.
“Permisi kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan pesananku  kopi Americano. Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi sasaranku 3 menit kemudian.
Surat pertama yang ku baca adalah surat terakhir dari Lian

Hai Dinta,
Bagaimana kabarmu? Sudah 1 tahun aku meninggalkanmu, entah kau bertanya-tanya atau kau sudah melupakanku. Aku masih belum melupakanmu, bila saat ini kau sedang di kedai kopi itu, tengoklah ada puisi yang menggantung :

Dan jika aroma kopi yang membawamu kembali
Kaki ku akan sering mengunjungi kedai ini
Tak hanya memesan secangkir
Lebih dari itu
Lalu kau kembali
Karena mencium aroma kopiku

Itu adalah puisi untukmu, kau akan segera tahu jawabannya sebentar lagi.

Salam rindu

Ombak

“Dasar pengecut, sampai kapan aku menunggu !”, aku berteriak lupa bahwa saat ini aku sedang berada di kedai. Jawaban dari Lian adalah hadiah terbaikku, mungkin sebentar lagi dan teka-teki ini akan terjawab.

Salam rindu
Dinta

Membubuhkan tulisan di bawah amplop cokelat bergambar gantungan kosong.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Pulang

Butuh berapa ratus jam lagi, atau berapa ratus hari lagi untuk pulang kembali seperti dulu. Mungkin dengan pilihan kata yang tepat, coba fikir lagi. Pulang atau  kembali ? Pulang belum tentu kembali bukan? Oh atau aku pulang saja, tapi tak usah kembali? atau aku kembali karena pulang? Sulit memang, usia bertambah atau berkurang? secara umur mungkin bertambah, karena 1+1 tetap 2, apalagi usiamu sekarang, coba hitung sendiri, memang setiap tahun bertambah atau berkurang angkanya? ya bertambah, anak SD saja tau. Tapi mungkin berkurang, karena saat berpulang usia-usia kita pada usia puncak, yaa sebenarnya tidak menutup kemungkinan usia puncak adalah saatnya untuk pulang. Ah lebih baik kembali saja kerumah dan dirumah, daripada berpulang tapi tak kembali kan ? Masih banyak mimpi-mimpi yang belum diraih. Mulai dari menjelajahi Indonesia, tinggal di Turki, foto di Monumen Hachiko, duduk di Lembah Mandalawangi menemui arwah Alm. Soe, naik gunung Semeru, Tidur di Wae Rebo, Naik Pes...

Spirit Buku Harian

Aku senang melihat Ibuku yang setiap pagi menulis harapan dan doanya diatas sticky notes atau dibuku harian kecil yang selalu beliau bawa kemana-mana. Sempat waktu itu aku sedang membereskan dokumen lama miliki Ibuku dan menemukan buku harian ketika ibuku masih kuliah jenjang  D3. Entah spirit apa yang membuat ibuku kuat dan bertahan untuk melanjutkan kuliah hingga menyelesaikan D3nya, mungkin itu yang membuat beliau kini begitu mendukung anak sulungnya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Satu kalimat yang masih ku ingat, dan mengendap dalam fikiranku, ibuku yang menulisnya dalam buku hariannya,    " Saat ini mungkin aku tak memiliki materi cukup seperti yang lain, semoga tahun ini aku lulus dengan membanggakan, dan bekerja dengan giat. Janjiku untuk calon anakku kelak, dengan apapun aku akan mendukungnya untuk meraih cita-cita ".  Perlahan air mataku  menetes, membayangkan apa yang sedang terjadi saat ibuku menulis curahan hatinya dibuku har...