Langsung ke konten utama

ADU ARGUMEN ANTAR SIMPATISAN

Curcol dikit yaak😂

Bulan-bulan ini, makin marak aja terjadi perang di sosmed. Masih Booming aja adu argumen antara simpatisan presiden kita J dan lawannya dulu P. Langsung to the point apa yang mau gue bahas disini, Rasanya udah enek mau nulis ini, sebagai warga negara yang baik apalagi kita sebagai seorang generasi muda, nggak salah kok kalau kita mendukung sosok pemimpin antara presiden J atau dulu lawannya P, tapi inget sekarang kita sudah dihadapkan dengan pemerintahan baru dan sistem pemerintahan yang baru pula, masak sampai sekarang masih banyak aja yang belum bisa terima kalo jagoannya "gagal" jadi presiden.

Oke, disini gue mau negasin yaa bahwa gue NETRAL nggak memihak siapapun, biar enak ngeluarin unek-uneknya, tanpa ada unsur fanatisme yang mendominasi. kemarin sempat dosen pengempu salah satu mata kuliah menegaskan, sebagai warga negara yang baik kita memang seharusnya kritis terutama dalam kebijakan pemerintah, setelah pemilu berlalu kita harus bersikap netral dan kembali menjadi diri kita sendiri. ada salah satu teman dikelas gue yang "fanatik" terhadap salah satu cawapres dulu saat pemilu, hingga sampek sekarang menurut dia semua kebijakan pemerintah tidak ada yang benar dan selalu salah dimatanya.

Bagaimana negara kita mau solid, kita ini kan negara yang bernaung dalam kebhinekaan. apabila masih ada fanatisme, terutama kepada sosok figur kepemimpinan, gimana caranya kita berpikir netral, berpikir jernih. Dengan adanya fanatisme yang berlebihan kayak gitu, kita akan sulit untuk menjadi kontrol untuk kebijakan pemerintah. sebagai seorang yang berada dilingkungan seperti itu, rasanya ada impian  suatu saat ada lembaga yang benar-benar mewadahi suara-suara kita (rakyat), adanya evaluasi kebijakan pemerintah ditiap kota dengan diwakili oleh salah satu lembaga, nah disitu kan kita  bisa memberikan masukan apa yang kita (rakyat) inginkan. sehingga nggak cuma perang disosmed, kebijakan ini itu nggak pas, kalau misalnya ngobrol soal politik atau fanatisme mungkin akan jauh melebar, yah semoga aja yang baca blog gue terutama anak-anak muda bisa kebuka jalan fikirannya. Ayolah come on, kita perbaiki diri sendiri dulu, kalo bisa kita ajak temen-temen yang lain buat jadi pribadi yang lebih baik, toh itu sama aja kan seenggaknya kita membantu bangsa ini menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit, ya emang perubahan itu mulai dari diri sendiri baru orang lain.

Berharap ada sesuatu yang bikin temen-temen gue sadar, apa untungnya sih kita berpikir negatif, hujat sana sini, mending kita berpikir positif, kritis membangun, buat perubahan kecil selagi mampu. Semoga ada pencerahan ya agar mereka termasuk temen-temen gue berpikir maju ke depan, ya seenggaknya gk hanya bisa menghujat pemerintah, akan tetapi memberi masukan ide-ide mereka untuk kebijakan pemerintah yang lebih baik.
Alhamdulillaah udah lega, setelah nulis segini panjang unek-unek hari ini.
 *langsung berangkat kuliah, berharap nanti dikampus temen-temen udah pada sadar


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Pulang

Butuh berapa ratus jam lagi, atau berapa ratus hari lagi untuk pulang kembali seperti dulu. Mungkin dengan pilihan kata yang tepat, coba fikir lagi. Pulang atau  kembali ? Pulang belum tentu kembali bukan? Oh atau aku pulang saja, tapi tak usah kembali? atau aku kembali karena pulang? Sulit memang, usia bertambah atau berkurang? secara umur mungkin bertambah, karena 1+1 tetap 2, apalagi usiamu sekarang, coba hitung sendiri, memang setiap tahun bertambah atau berkurang angkanya? ya bertambah, anak SD saja tau. Tapi mungkin berkurang, karena saat berpulang usia-usia kita pada usia puncak, yaa sebenarnya tidak menutup kemungkinan usia puncak adalah saatnya untuk pulang. Ah lebih baik kembali saja kerumah dan dirumah, daripada berpulang tapi tak kembali kan ? Masih banyak mimpi-mimpi yang belum diraih. Mulai dari menjelajahi Indonesia, tinggal di Turki, foto di Monumen Hachiko, duduk di Lembah Mandalawangi menemui arwah Alm. Soe, naik gunung Semeru, Tidur di Wae Rebo, Naik Pes...

Spirit Buku Harian

Aku senang melihat Ibuku yang setiap pagi menulis harapan dan doanya diatas sticky notes atau dibuku harian kecil yang selalu beliau bawa kemana-mana. Sempat waktu itu aku sedang membereskan dokumen lama miliki Ibuku dan menemukan buku harian ketika ibuku masih kuliah jenjang  D3. Entah spirit apa yang membuat ibuku kuat dan bertahan untuk melanjutkan kuliah hingga menyelesaikan D3nya, mungkin itu yang membuat beliau kini begitu mendukung anak sulungnya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Satu kalimat yang masih ku ingat, dan mengendap dalam fikiranku, ibuku yang menulisnya dalam buku hariannya,    " Saat ini mungkin aku tak memiliki materi cukup seperti yang lain, semoga tahun ini aku lulus dengan membanggakan, dan bekerja dengan giat. Janjiku untuk calon anakku kelak, dengan apapun aku akan mendukungnya untuk meraih cita-cita ".  Perlahan air mataku  menetes, membayangkan apa yang sedang terjadi saat ibuku menulis curahan hatinya dibuku har...

Rindu di Kedai Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com “Permisi kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan pesananku   kopi Americano . Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi sasaranku 3 menit kemudian. Suasana kedai kopi ini selalu sama, tak ada yang berubah selama 1 tahun terakhir hanya beberapa lukisan yang menggantung di dinding dan beberapa puisi menghiasi sudut-sudut ruangan. Dan jika aroma kopi yang membawamu kembali Kaki ku akan sering mengunjungi kedai ini Tak hanya memesan secangkir Lebih dari itu Lalu kau kembali Karena mencium aroma kopiku Aku membacanya berulang kali, puisi itu menempel tepat di sampingku. Hampir setiap sore berkunjung, sudut kedai ini menurutku yang terbaik. Dinding kayu berhiaskan sastra klasik, puisi-puisi dari pengunjung dan lukisan yang berbaur bersama dinding, membuat p...