Langsung ke konten utama

Sintesis


Jika hidup hanyalah untuk menabung kebaikan, kenapa harus ada kejahatan. Padahal tak semua orang menabung untuk kebaikan, masih banyak mereka diluar sana yang melakukan kejahatan. Apa yang sedang terjadi? Malam ini penuh makna, bulan semakin diam, semakin malam semakin diam, bintang mulai tak nampak, apa akan turun hujan?


Kadang hati dan  rasio manusia bertolak belakang, kadang aku menganggap wajar. Jika didunia yang katanya fana,  dan hanyalah persinggahan, masih ada peperangan, masih ada penipuan, masih ada penindasan, masih ada penjajahan, sekalipun tak ada justru bumi ini terlalu normal dan berjalan sesuai harap. Jika menelisik kebelakang, kenapa harus ada hal-hal yang kusebutkan tadi? Kenapa bumi ini begitu kejam dan keras, padahal manusia diciptakan hanyalah untuk menebarkan kebaikan dan saling menjaga perdamaian. Berapa lama kita hidup di dunia? Selama itukah hingga sampai sekarang  masih ada regenerasi kelompok elit, keterpeliharan kelompok marjinal diatas suatu kelompok, belum lagi masalah yang membuat resah dan sulit untuk di bereskan. Ahhh dunia ini terlalu banyak konflik dan masalah, dan aku hanya bisa mengamati, pelan-pelan aku hanya mencoba memastikan, bahwa aku bukanlah salah satu manusia yang menambah masalah yang ada di dunia ini. Perlahan  aku juga mencoba memastikan, bahwa orang-orang disekelilingku bukanlah orang-orang yang menambah masalah di dunia ini, itu yang membuatku sedikit khawatir dan semoga tidak. 
Masalah-masalah dunia tidak akan berakhir tanpa ada kesadaran manusia mengenai begitu kompleksnya problem yang harus mereka hadapi diluar dari kendali diri mereka sendiri. Kesadaran tidak akan menambah masalah baru, sebagai trouble maker dan sebagai penyulut masalah. Bayangkan jika dunia ini damai, cukup damai saja sebagian masalah sudah terselesaikan dengan rapi, karena sebagian besar masalah yang ada berkaitan dengan kedamaian. Aku hanya memastikan bahwa aku adalah pelopor dari kedamaian itu, walaupun masih sebatas pada diriku sendiri dan orang-orang disekitar. Setidaknya aku sudah berdamai dengan kenyataan yang ada, bahwa dunia ini tak selalu berjalan sesuai harap. Bahkan jika seseorang mengusahakan untuk meramal masa depan dan mengubah takdir dengan cara berdialog kepada Tuhan, jawaban itu takkan dengan mudah turun dari langit dan mengubah segalanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Pulang

Butuh berapa ratus jam lagi, atau berapa ratus hari lagi untuk pulang kembali seperti dulu. Mungkin dengan pilihan kata yang tepat, coba fikir lagi. Pulang atau  kembali ? Pulang belum tentu kembali bukan? Oh atau aku pulang saja, tapi tak usah kembali? atau aku kembali karena pulang? Sulit memang, usia bertambah atau berkurang? secara umur mungkin bertambah, karena 1+1 tetap 2, apalagi usiamu sekarang, coba hitung sendiri, memang setiap tahun bertambah atau berkurang angkanya? ya bertambah, anak SD saja tau. Tapi mungkin berkurang, karena saat berpulang usia-usia kita pada usia puncak, yaa sebenarnya tidak menutup kemungkinan usia puncak adalah saatnya untuk pulang. Ah lebih baik kembali saja kerumah dan dirumah, daripada berpulang tapi tak kembali kan ? Masih banyak mimpi-mimpi yang belum diraih. Mulai dari menjelajahi Indonesia, tinggal di Turki, foto di Monumen Hachiko, duduk di Lembah Mandalawangi menemui arwah Alm. Soe, naik gunung Semeru, Tidur di Wae Rebo, Naik Pes...

Spirit Buku Harian

Aku senang melihat Ibuku yang setiap pagi menulis harapan dan doanya diatas sticky notes atau dibuku harian kecil yang selalu beliau bawa kemana-mana. Sempat waktu itu aku sedang membereskan dokumen lama miliki Ibuku dan menemukan buku harian ketika ibuku masih kuliah jenjang  D3. Entah spirit apa yang membuat ibuku kuat dan bertahan untuk melanjutkan kuliah hingga menyelesaikan D3nya, mungkin itu yang membuat beliau kini begitu mendukung anak sulungnya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Satu kalimat yang masih ku ingat, dan mengendap dalam fikiranku, ibuku yang menulisnya dalam buku hariannya,    " Saat ini mungkin aku tak memiliki materi cukup seperti yang lain, semoga tahun ini aku lulus dengan membanggakan, dan bekerja dengan giat. Janjiku untuk calon anakku kelak, dengan apapun aku akan mendukungnya untuk meraih cita-cita ".  Perlahan air mataku  menetes, membayangkan apa yang sedang terjadi saat ibuku menulis curahan hatinya dibuku har...

Rindu di Kedai Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com “Permisi kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan pesananku   kopi Americano . Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi sasaranku 3 menit kemudian. Suasana kedai kopi ini selalu sama, tak ada yang berubah selama 1 tahun terakhir hanya beberapa lukisan yang menggantung di dinding dan beberapa puisi menghiasi sudut-sudut ruangan. Dan jika aroma kopi yang membawamu kembali Kaki ku akan sering mengunjungi kedai ini Tak hanya memesan secangkir Lebih dari itu Lalu kau kembali Karena mencium aroma kopiku Aku membacanya berulang kali, puisi itu menempel tepat di sampingku. Hampir setiap sore berkunjung, sudut kedai ini menurutku yang terbaik. Dinding kayu berhiaskan sastra klasik, puisi-puisi dari pengunjung dan lukisan yang berbaur bersama dinding, membuat p...