Langsung ke konten utama

Akibat Labelling dalam Lingkungan

Terkadang ada satu waktu dimana seseorang terlihat bodoh, tapi sesekali. Seseorang yang sebenarnya tidak terlalu mengenalmu, dan bahkan hanya tau sekilas tentang hidupmu membawa banyak perubahan ketika orang lain memandangmu  hanya dari satu perspektif, dan satu suara itu perlahan menjadi dominan hingga menjadi topik pembicaraan di dalam sebuah kelompok.
Kepercayaan, sulit rasanya membangun itu ketika sudah di cap sebagai orang yang (terlihat bodoh) dan seakan tidak bisa mengemban suatu amanah. Apa kalian tau? Orang yang sudah memiliki label tersebut, bahkan apapun yang ia lakukan hanyalah kesalahan, dan benar hanyalah kebetulan. Mungkin jika di akumulasi berapa kali seseorang bertindak bodoh di depan orang lain, dengan akumulasi berapa kali seseorang tersebut berguna untuk orang lain, poin kedua hanyalah bayangan yang memang mereka anggap itu adalah sebuah kebetulan dan biasa saja. Perubahan dalam diri seseorang sangat terkait dengan bagaimana ia diperlakukan oleh lingkungan di sekitarnya. Apa mungkin jika selama itu ia berada dalam lingkungan yang salah, tidak dihargai, berbagai macam labellling negatif yang diberikan   dan akan tetap bodoh jika ia tetap menerima labelling yang diberikan oleh lingkungannya. Kadang mereka tidak sadar, atau entah hanya suatu lelucon agar suasana menjadi cair dengan mencari korban dalam suatu kelompok dan memberikannya label hingga bisa menjadi bahan “tertawaan”. Dampak itu sangat besar, bahkan amat besar, karena berkorelasi dengan kepercayaan, dimana kepercayaan adalah hal yang amat penting dalam melihat reputasi seseorang. 
Akan ada saatnya seseorang yang menjadi bahan lelucon atau bahan bercandaan dalam sebuah kelompok  merasa di kucilkan atau merasa ia  tak berguna sama sekali. Diluar sana masih banyak lingkungan yang sehat, yang menghargai seluruh kerja keras, usaha dan berbagai macam pemikirannya, tapi saat ia berada di lingkungan yang salah, bahkan kepercayaan pun sulit untuk ia dapatkan. Hanya menjadi bahan perbincangan agar suasana cair dan tidak garing atau hanya menjadi bahan pelampiasan seseorang yang ingi meluapkan emosinya. Seluruh perbuatan, pemikiran dan kerja keras  yang telah ia lakukan  adalah “kosong” tak bernilai, setelah labelling itu mulai melekat pada dirinya, dan bahkan sekarang ia mulai berfikir apakah benar yang mereka katakan? Separah itukah aku? Atau bagaimana caraku untuk memperbaikinya? Mungkin jawaban terbaik adalah dengan diam, sulit memang mendapatkan label sebagai seseorang yang “tanda kutip” dalam artian di sebuah kelompok, atau ingin merubah sikap itupun sudah terlambat, label sudah melekat setidaknya keluar dari lingkungan itu adalah pilihan terbaik, dan mencari lingkungan yang sehat. Mungkin hal terbaik adalah jangan terlalu memandang semua itu dari  sisi buruk, setiap orang memiliki kelebihan bahkan dirimu sendiri, dan mereka yang membuat label itu sebenarnya juga memiliki kekurangan dan bahkan mungkin tidak lebih baik dari dirimu.
Banyak orang-orang diluar sana yang berada pada posisi seperti itu, menjadi sebuah sumber kebahagiaan  bagi orang lain, dan bahkan ia sama sekali tidak menikmatinya atau mungkin ia sedang berpura-pura diam tidak tahu bahwa ialah yang menjadi korban. Sungguh, itu bukanlah hal yang terpuji, naluri alami manusia adalah memberontak, tapi jika ia tak melakukannya sungguh ia memang sudah terlampau malas untuk meluruskan berbagai macam stigma negatif yang melekat, atau menghilangkan labelling tersebut. Bahkan seorang menteripun yang memiliki pengetahuan dan sudah lalu lalang dalam bidang yang ia geluti, jika ia berada pada lingkungan yang salah, semua pemikiran, tindakan dan berbagai macam kontribusinya hanyalah “kosong” dan tidak diperhitungkan, karena tidak semua orang mampu mengendalikan suasana dan labelling yang diberikan oleh lingkungannya. Maka dari itu tetaplah seperti dirimu yang dulu, atau berubah menjadi seseorang yang benar-benar menghargai diri sendiri, dan melakukan suatu keseimbangan  hidup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Pulang

Butuh berapa ratus jam lagi, atau berapa ratus hari lagi untuk pulang kembali seperti dulu. Mungkin dengan pilihan kata yang tepat, coba fikir lagi. Pulang atau  kembali ? Pulang belum tentu kembali bukan? Oh atau aku pulang saja, tapi tak usah kembali? atau aku kembali karena pulang? Sulit memang, usia bertambah atau berkurang? secara umur mungkin bertambah, karena 1+1 tetap 2, apalagi usiamu sekarang, coba hitung sendiri, memang setiap tahun bertambah atau berkurang angkanya? ya bertambah, anak SD saja tau. Tapi mungkin berkurang, karena saat berpulang usia-usia kita pada usia puncak, yaa sebenarnya tidak menutup kemungkinan usia puncak adalah saatnya untuk pulang. Ah lebih baik kembali saja kerumah dan dirumah, daripada berpulang tapi tak kembali kan ? Masih banyak mimpi-mimpi yang belum diraih. Mulai dari menjelajahi Indonesia, tinggal di Turki, foto di Monumen Hachiko, duduk di Lembah Mandalawangi menemui arwah Alm. Soe, naik gunung Semeru, Tidur di Wae Rebo, Naik Pes...

Spirit Buku Harian

Aku senang melihat Ibuku yang setiap pagi menulis harapan dan doanya diatas sticky notes atau dibuku harian kecil yang selalu beliau bawa kemana-mana. Sempat waktu itu aku sedang membereskan dokumen lama miliki Ibuku dan menemukan buku harian ketika ibuku masih kuliah jenjang  D3. Entah spirit apa yang membuat ibuku kuat dan bertahan untuk melanjutkan kuliah hingga menyelesaikan D3nya, mungkin itu yang membuat beliau kini begitu mendukung anak sulungnya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Satu kalimat yang masih ku ingat, dan mengendap dalam fikiranku, ibuku yang menulisnya dalam buku hariannya,    " Saat ini mungkin aku tak memiliki materi cukup seperti yang lain, semoga tahun ini aku lulus dengan membanggakan, dan bekerja dengan giat. Janjiku untuk calon anakku kelak, dengan apapun aku akan mendukungnya untuk meraih cita-cita ".  Perlahan air mataku  menetes, membayangkan apa yang sedang terjadi saat ibuku menulis curahan hatinya dibuku har...

Rindu di Kedai Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com “Permisi kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan pesananku   kopi Americano . Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi sasaranku 3 menit kemudian. Suasana kedai kopi ini selalu sama, tak ada yang berubah selama 1 tahun terakhir hanya beberapa lukisan yang menggantung di dinding dan beberapa puisi menghiasi sudut-sudut ruangan. Dan jika aroma kopi yang membawamu kembali Kaki ku akan sering mengunjungi kedai ini Tak hanya memesan secangkir Lebih dari itu Lalu kau kembali Karena mencium aroma kopiku Aku membacanya berulang kali, puisi itu menempel tepat di sampingku. Hampir setiap sore berkunjung, sudut kedai ini menurutku yang terbaik. Dinding kayu berhiaskan sastra klasik, puisi-puisi dari pengunjung dan lukisan yang berbaur bersama dinding, membuat p...