Terkadang ada satu
waktu dimana seseorang terlihat bodoh, tapi sesekali. Seseorang yang sebenarnya
tidak terlalu mengenalmu, dan bahkan hanya tau sekilas tentang hidupmu membawa
banyak perubahan ketika orang lain memandangmu hanya dari satu
perspektif, dan satu suara itu perlahan menjadi dominan hingga menjadi topik
pembicaraan di dalam sebuah kelompok.
Kepercayaan, sulit
rasanya membangun itu ketika sudah di cap sebagai orang yang (terlihat bodoh)
dan seakan tidak bisa mengemban suatu amanah. Apa kalian tau? Orang yang sudah
memiliki label tersebut, bahkan apapun yang ia lakukan hanyalah
kesalahan, dan benar hanyalah kebetulan. Mungkin jika di akumulasi berapa kali
seseorang bertindak bodoh di depan orang lain, dengan akumulasi berapa kali seseorang
tersebut berguna untuk orang lain, poin kedua hanyalah bayangan yang memang
mereka anggap itu adalah sebuah kebetulan dan biasa saja. Perubahan dalam diri
seseorang sangat terkait dengan bagaimana ia diperlakukan oleh lingkungan di
sekitarnya. Apa mungkin jika selama itu ia berada dalam lingkungan yang salah,
tidak dihargai, berbagai macam labellling negatif yang diberikan dan akan tetap bodoh jika ia tetap menerima
labelling yang diberikan oleh lingkungannya. Kadang mereka tidak sadar, atau
entah hanya suatu lelucon agar suasana menjadi cair dengan mencari korban dalam
suatu kelompok dan memberikannya label hingga bisa menjadi bahan “tertawaan”. Dampak
itu sangat besar, bahkan amat besar, karena berkorelasi dengan kepercayaan, dimana
kepercayaan adalah hal yang amat penting dalam melihat reputasi seseorang.
Akan ada saatnya
seseorang yang menjadi bahan lelucon atau bahan bercandaan dalam sebuah
kelompok merasa di kucilkan atau merasa ia tak berguna sama sekali.
Diluar sana masih banyak lingkungan yang sehat, yang menghargai seluruh kerja keras, usaha dan
berbagai macam pemikirannya, tapi saat ia berada di lingkungan yang salah,
bahkan kepercayaan pun sulit untuk ia dapatkan. Hanya menjadi bahan
perbincangan agar suasana cair dan tidak garing atau hanya menjadi bahan
pelampiasan seseorang yang ingi meluapkan emosinya. Seluruh perbuatan,
pemikiran dan kerja keras yang telah ia
lakukan adalah “kosong” tak bernilai, setelah labelling itu mulai
melekat pada dirinya, dan bahkan sekarang ia mulai berfikir apakah benar yang
mereka katakan? Separah itukah aku? Atau bagaimana caraku untuk memperbaikinya?
Mungkin jawaban terbaik adalah dengan diam, sulit memang mendapatkan label
sebagai seseorang yang “tanda kutip” dalam artian di sebuah kelompok, atau
ingin merubah sikap itupun sudah terlambat, label sudah melekat setidaknya keluar dari lingkungan itu adalah pilihan terbaik, dan mencari lingkungan yang sehat. Mungkin hal
terbaik adalah jangan terlalu memandang semua itu dari sisi buruk, setiap orang memiliki kelebihan
bahkan dirimu sendiri, dan mereka yang membuat label itu sebenarnya juga
memiliki kekurangan dan bahkan mungkin tidak lebih baik dari dirimu.
Banyak orang-orang
diluar sana yang berada pada posisi seperti itu, menjadi sebuah sumber
kebahagiaan bagi orang lain, dan bahkan
ia sama sekali tidak menikmatinya atau mungkin ia sedang berpura-pura diam
tidak tahu bahwa ialah yang menjadi korban. Sungguh, itu bukanlah hal yang
terpuji, naluri alami manusia adalah memberontak, tapi jika ia tak melakukannya
sungguh ia memang sudah terlampau malas untuk meluruskan berbagai macam stigma
negatif yang melekat, atau menghilangkan labelling tersebut. Bahkan seorang
menteripun yang memiliki pengetahuan dan sudah lalu lalang dalam bidang yang ia
geluti, jika ia berada pada lingkungan yang salah, semua pemikiran, tindakan
dan berbagai macam kontribusinya hanyalah “kosong” dan tidak diperhitungkan,
karena tidak semua orang mampu mengendalikan suasana dan labelling yang
diberikan oleh lingkungannya. Maka dari itu tetaplah seperti dirimu yang dulu,
atau berubah menjadi seseorang yang benar-benar menghargai diri sendiri, dan melakukan suatu keseimbangan hidup.
Komentar
Posting Komentar