Langsung ke konten utama

Alasan Sepi Adalah Wajar



Dalam hidup, pernahah kamu merasakan sepi? Yaa setiap orang pernah merasakan apa itu sepi. Sepi bukan karena tidak ada yang mendengarkan curhatanmu, bukan karena kemana-mana kamu sendirian, bukan karena kamu single atau kamu nggak punya temen. Sepi yang paling akut adalah saat hidup kamu penuh dengan orang-orang yg selalu ada, tapi mungkin kamu merasa semua perhatian yang mereka berikan hanya hal yang biasa dan wajar-wajar saja. Saat itu kamu merasa ada rasa yang berbeda, disatu sisi kamu tidak kesepian dan disatu sisi kamu merasa sendiri karena mereka bukan duniamu.
            Semakin hari, kamu menjadi pribadi yang berbeda. Kamu selalu menyenangkan orang lain tanpa kamu sadari hal itu bertolak belakang dengan yang kamu inginkan. Bukan hanya kepribadinmu yang menyesuaikan orang disekitarmu, melainkan aktivitasmu pun sudah mulai mengikuti alurnya. Seakan kamu adalah air, yang bisa ditempatkan dimana saja, dan ketika kamu menjadi air, banyak orang  yang menyukaimu dan disisi lain hatimu berkata, “sebenarnya ini  bukan ranahku ! aku tidak ingin berada ditempat ini” kamu ingin menjadi air terjun yang bebas, indah, dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, dikunjungi semua orang dan kamu tidak inin menjadi  air dalam wadah.
            Sepi, disitulah kamu merasakan sepi yang sebenarnya. Ketika tidak ada seorangpun yang tau, apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka. Mereka hanya tau kamu adalah orang yang fleksibel. Yaaa, mungkin ada diantara kalian yang merasakan hal ini, kesepian oleh diri sendiri. Terkadang kamu pergi sendiri, berjalan sendiri, mencari sendiri apa yang kamu sukai tanpa ada orang lain yang tau, kamu hanya ingin merefresh fikiran dan perasaanmu selama ini, yang kesekian kalinya kamu merasa bosan dengan kehidupan dan aktivitasmu selama ini.
            Banyak orang-orang diluar sana yang merasa sepi, karena mereka memang sepi tanpa orang lain. Sebaliknya kamu, kamu merasa sepi bahkan ketika banyak orang yang menyukaimu, dan pernah terbesit dalam hati kamu hanya ingin bebas melakukan apa yang kamu suka. Well, hidup itu memang adil siapa yang tau hati seseroang. Dibalik bibir yang selalu tersenyum, ada obat pahit disela-sela mulut. Mungkin itu yang terjadi pada kamu saat ini, atau mungkin kamu yang tidak bisa mensyukuri hidup? Itulah yang menjadi pertanyaan, apakah orang bisa merasa sepi, ketika orang lain selalu siap sedia menghiburnya? Haha lucu bukan, hidup ini sebenarnya lucu, sangat lucu. Bukan hidupnya yang menjadi bahan lelucon, tapi pelaku hidupnya lah yang membuat hidup ini lucu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Pulang

Butuh berapa ratus jam lagi, atau berapa ratus hari lagi untuk pulang kembali seperti dulu. Mungkin dengan pilihan kata yang tepat, coba fikir lagi. Pulang atau  kembali ? Pulang belum tentu kembali bukan? Oh atau aku pulang saja, tapi tak usah kembali? atau aku kembali karena pulang? Sulit memang, usia bertambah atau berkurang? secara umur mungkin bertambah, karena 1+1 tetap 2, apalagi usiamu sekarang, coba hitung sendiri, memang setiap tahun bertambah atau berkurang angkanya? ya bertambah, anak SD saja tau. Tapi mungkin berkurang, karena saat berpulang usia-usia kita pada usia puncak, yaa sebenarnya tidak menutup kemungkinan usia puncak adalah saatnya untuk pulang. Ah lebih baik kembali saja kerumah dan dirumah, daripada berpulang tapi tak kembali kan ? Masih banyak mimpi-mimpi yang belum diraih. Mulai dari menjelajahi Indonesia, tinggal di Turki, foto di Monumen Hachiko, duduk di Lembah Mandalawangi menemui arwah Alm. Soe, naik gunung Semeru, Tidur di Wae Rebo, Naik Pes...

Spirit Buku Harian

Aku senang melihat Ibuku yang setiap pagi menulis harapan dan doanya diatas sticky notes atau dibuku harian kecil yang selalu beliau bawa kemana-mana. Sempat waktu itu aku sedang membereskan dokumen lama miliki Ibuku dan menemukan buku harian ketika ibuku masih kuliah jenjang  D3. Entah spirit apa yang membuat ibuku kuat dan bertahan untuk melanjutkan kuliah hingga menyelesaikan D3nya, mungkin itu yang membuat beliau kini begitu mendukung anak sulungnya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Satu kalimat yang masih ku ingat, dan mengendap dalam fikiranku, ibuku yang menulisnya dalam buku hariannya,    " Saat ini mungkin aku tak memiliki materi cukup seperti yang lain, semoga tahun ini aku lulus dengan membanggakan, dan bekerja dengan giat. Janjiku untuk calon anakku kelak, dengan apapun aku akan mendukungnya untuk meraih cita-cita ".  Perlahan air mataku  menetes, membayangkan apa yang sedang terjadi saat ibuku menulis curahan hatinya dibuku har...

Rindu di Kedai Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com “Permisi kak, ini pesanannya”, pelayan cantik itu tersenyum simpul sambil mengantarkan pesananku   kopi Americano . Sambil membolak-balikkan amplop surat ditanganku, kopi inilah yang akan menjadi sasaranku 3 menit kemudian. Suasana kedai kopi ini selalu sama, tak ada yang berubah selama 1 tahun terakhir hanya beberapa lukisan yang menggantung di dinding dan beberapa puisi menghiasi sudut-sudut ruangan. Dan jika aroma kopi yang membawamu kembali Kaki ku akan sering mengunjungi kedai ini Tak hanya memesan secangkir Lebih dari itu Lalu kau kembali Karena mencium aroma kopiku Aku membacanya berulang kali, puisi itu menempel tepat di sampingku. Hampir setiap sore berkunjung, sudut kedai ini menurutku yang terbaik. Dinding kayu berhiaskan sastra klasik, puisi-puisi dari pengunjung dan lukisan yang berbaur bersama dinding, membuat p...