Cerita teman (Pl)
Pernikahan adalah suatu hal yang sakral, sekali seumur hidup. Keputusan untuk menikah bukanlah keputusan yang mudah, dalam hal ini diperlukan kematangan secara mental, materi, dan fisik. Kehidupan pernikahan adalah kehidupan yang dijalani, dua orang saling mengasihi dengan segala penerimaan satu sama lain. akan tetapi tidak sedikit orang-orang disana menikah dan menjalani kehidupan yang tidak seperti yang di bayangkan, kehidupan dimana satu sama lain saling berbeda prinsip, saling menyakiti bahkan saling mengkhianati.
Kehidupan
dalam keluarga merupakan kehidupan yang menjadi pijakan seseorang untuk
bersosialisasi dilingkungan, keluarga adalah cermin bagaimana seseorang
bersikap dan bertindak.
Banyak
teman-teman saya menjadi pribadi yang rentan akan pergantian mood dan gejolak emosi yang benar-benar
tidak stabil. Hal itu ditunjukkan ketika mereka dalam keadaan tertekan oleh
keadaan, tugas kuliah, masalah pribadi, dan under
pressure lain.
Nasehat
kehidupan tentang pernikahan tidak hanya ada di buku ataupun teori-teori
psikologi yang diajarkan dalam bangku kuliah. Berkaca dari pengalaman-pengalaman
keluarga lain, dan keluarga saya sendiri, membuat saya sedikit takut untuk
menentukan apakah benar dia adalah yang terbaik untuk saya? Bahasan kali ini
terkait dengan pola asuh orang tua, dan menurut saya berhubungan erat dengan
pijakan awal yaitu pernikahan.
Mengapa
pernikahan ? ya tidak semua orang menikah atas dasar sayang dan saling
mencintai, banyak diluar sana keluarga yang terbentuk dari berbagai macam
alasan, mulai dari alasan terpaksa, karena memang keadaan yang membuat
seseorang menikah dengan orang yang tidak ia sayangi, atau alasan menghilangkan
jejak masa lalu, ada pula pasangan yang menikah karena ingin menghilangkan jejak
masa lalu yang di alami oleh salah satu pihak atau keduanya, yang mungkin
mempunyai masa lalu yang kelam, dan yang paling tragis ketika pasangan menikah
tanpa cinta, tanpa perkenalan, tanpa tau satu sama lain, dengan pandangan hidup
yang bertolak belakang, dengan keinginan yang saling berkebalikan. Apa yang
terjadi dengan keluarga yang berangkat dari keterpaksaan dan ketidaktahuan
dengan dunia pernikahan? Yaa, bertahun-tahun mereka menyimpan boomerang yang
kapan saja bisa meledak. Ibuku salah satunya, beliau menikah dengan ayahku
berbekal kepercayaan cinta akan tumbuh dengan sendirinya dalam masa-masa
pernikahan, ternyata tidak, keributan, perbedaan pendapat, bahkan terjadi
perselingkuhan yang benar-benar membuat saya down dan hampir berhenti untuk kuliah. Pola asuh yang mereka
berikan kepada saya benar-benar membuat saya ingin mencoba hal-hal yang
berhubungan dengan cinta, semakin dilarang semakin saya ingin tau lebih dalam,
untung hal tersebut masih bisa saya hentikan dengan self control yaitu agama. Entah setan apa yang merasuki
orang tua saya, sampai benar-benar mereka membuat hati saya mati dan tidak
percaya akan cinta sejati.
Sebut
saja hari itu adalah hari Selasa, berbekal rindu yang sudah menumpuk, saya
pulang kerumah dengan dalih ingin bertemu adik saya satu-satunya yang masih berumur sekitar 7 tahun, terlepas
saya juga ingin mengobati rindu saya dengan keluarga terutama ayah dan ibu.
Malam itu biasa-biasa saja, seperti malam biasanya saat saya duduk dibangku SMA.
Tepat pukul 6 setelah maghrib kami sholat berjamaah bersama ayah, ibu, saya dan
adik, suasana sepertinya ada yang berbeda, saya masuk ke dalam kamar untuk
mengecek tugas di Jogja yang saya tinggalkan karena saya pulang kerumah.
Tiba-tiba ibu saya masuk kedalam kamar saya dengan mambawa telfon genggam ayah.
Mungkin disitu awal boomerang yang mereka simpan bertahun-tahun meledak, saya
juga tidak menyalahkan orang tua saya yang tidak bisa mengontrol emosi, semua
salah saya kenapa saya tidak membawa adik saya pergi dari rumah! Mungkin itu
kebodohan yang saya lakukan sebagai kakak.
Ayah
saya menggedor pintu kamar saya meminta telfon genggamnya dikembalikan, dan ibu
saya tetap bersikeras tidak mau mengembalikan telfon genggam milik ayah saya.
Saat itu telfon genggam milik ayah saya dikunci dengan sandi pengaman telfon,
dan akhirnya bisa kami buka. Disitulah perselingkuhan ayah saya terbuka, jelas
dan nyata. Ibu saya tidak bisa mengontrol emosinya, dan memang ibu saya
mempunyai riwayat hipertensi, akhirnya terjadilah pertengkaran yang seharusnya
tidak disaksikan oleh saya, dan adik saya yang masih berumur sekitar 7 tahun.
Ibu saya tumbang dan dilarikan menuju rumah sakit, saat itu saya bingung
bagaimana caranya saya membawa ibu saya kerumah sakit, karena ibu saya tidak
mau ditolong oleh ayah saya yang sudah menyakiti hatinya, boomerang itu meledak
di saat yang tidak tepat. Kejadian yang mengerikan itu terjadi pada malam hari,
dimana anak memiliki rekam otak yang benar-benar tajam, dan semua kejadian yang
terjadi di malam hari, pasti terekam
dengan jelas oleh anak-anak. Semengerikan apa kejadian yang terjadi malam itu,
intinya saya tidak bisa menceritakan dengan gamblang karena fokus saya hanya
satu, membawa ibu saya kerumah sakit, tanpa memperdulikan adik saya (kebodohan
terbesar).
Kejadian
itu tidak hanya berhenti saat ibu saya masuk kerumah sakit, kejadian yang
paling membuat saya merasa bersalah adalah ketika saya memarahi ayah saya
sendiri dengan kata-kata yang mungkin membuat ayah saya merasa sakit hati. Saya
bilang dengan jelas, saya malu mempunyai ayah yang melakukan perbuatan hina itu
(perselingkuhan) walaupun ayah saya belum terbukti apakah benar-benar dia
berselingkuh dengan wanita itu. Malam itu saya berbicara bahwa kita berasal
dari keluarga terpandang, dan tidak sepantasnya ayah saya mencoreng nama baik
keluarga dengan melakukan perselingkuhan dalam keluarga, disitu saya berbicara
dengan menekankan bahwa ayah saya tidak berpendidikan, hanya lulusan SMK dan
seharusnya beliau bangga dengan Ibu saya yang saat itu akan naik pangkat, dalam tingkat PNS, sedangkan Ayah saya pegawai biasa.
Kejadian
kesekian kali yang paling membuat memori kelam adik saya dan saya, ketika orang
tua saya sedang cek cok didalam mobil. Ketika ibu saya mendesak ingin loncat
dari mobil yang jelas-jelas disampingnya adalah jalan curam, dan ayah saya
mendesak ingin menabrakkan mobilnya jika pertengkaran ini terus berlanjut,
mereka adu mulut tanpa henti di dalam mobil, dan jelas adik saya mengetahuinya
dengan amat sadar, kejadian itu malam hari lagi dan pasti terekam oleh adik
saya sampai ia dewasa. Sebagai anak sulung, saya mencoba menghentikan hal
tersebut dengan berkata, “jika ayah dan ibu tidak berhenti, saya akan menjadi
korban yang pertama kali, dan saya akan pergi selamanya, karena saya sudah tidak
kuat melihat kalian berdua seperti ini”, kemudian ibu dan ayah saya diam, akan
tetapi mobil melaju semakin kencang, saya dan adik saya sudah tidak kuasa
membendung tangis didalam mobil melihat ibu saya yang sudah lemas dan ayah saya
yang ber api-api.
Niat
liburan saat itu berujung sakit hati yang mendalam, menjadi luka yang
benar-benar membuat saya enggan untuk memulai cinta. Saya sudah meninggalkan pekerjaan kuliah selama hampir seminggu, dengan tugas yang menumpuk, dan saya putuskan
untuk cuti, tetapi ibu saya menolak dengan alasan jangan gadaikan masa
depanmu, demi ke egosian keluarga ini.
Disitulah
saya tersadar selama ini saya adalah korban dari didikan pola asuh orang tua
yang memendam boomerang bertahun-tahun, dan belum siap menjadi orang tua. Masa
kanak-kanak saya tumbuh dengan didikan orang tua yang keras, pernah satu waktu
saya menangis masih ingat dalam memori ingatan saya, ibu saya menenggelamkan saya
di dalam air sampai saya benar-benar diam dan sulit bernafas, ketika saya tidak
mau makan dan mengunci diri dikamar ayah saya melempari saya dengan seluruh
sepatu yang ada di rak, setelah itu masa-masa SMA saya yang ketika itu orang tua saya sangat
protektif pernah memvonis saya sebagai anak nakal, padahal saya hanya izin
untuk pergi dengan teman-teman merayakan perpisahan kelas X ke kelas XI. Saat
itu saya merasa di label buruk oleh orang tua saya. Hal bodoh yang saya lakukan
adalah saat saya sudah kesal sekali, saya berontak dan mengatakan kepada ayah
dan ibu saya “kalau saya anak nakal, mungkin dari dulu saya sudah hamil diluar
nikah dan tidak tinggal dirumah ini lagi”, kesalahan terbesar saya adalah
berbicara itu kepada kedua orang tua saya, dengan nada tinggi. ketika remaja
memang saya belum bisa mengontrol emosi, apalagi ketika seseorang menuduh kita
yang bukan-bukan, dan padahal jelas kita tidak melakukan itu.
Semua
itu saya balas dengan prestasi saya di sekolah, setiap semester berturut-turut
saya mendapatkan ranking pararel dan dibebaskan SPP sekolah sampai saya lulus
SMA, kemudian saya lulus dan mendaftarkan diri diperguruan tinggi negeri, dan dengan
hasil 2 perguruan tinggi negeri menerima saya.
Tapi
semua itu tidak berlaku bagi ayah saya, yang sama sekali tidak pernah
menanyakan kabar, apalagi memberikan
jatah uang bulanan, semua ibu saya yang mengurus dari keperluan kecil sampai
besar. Saat itu saya meninggalkan adik saya dengan kedua orang tua saya
dirumah, dengan kondisi boomerang yang disimpan kedua orangtua saya yang
sewaktu-waktu akan meledak. Bukan bermaksud untuk membuka aib keluarga, saya
harap cerita ini bisa menjadi pembelajaran bagi pembaca.
Komentar
Posting Komentar